Pengenalan akan Tuhan
- Published in Catatan Khotbah
2016-Tahun Pelipatgandaan
Di dalam kitab Mazmur 32:8 tercatat, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju padamu.”
Bagi kita para murid, berdoa dan baca Firman bukanlah lagi menjadi isu. Sudah sewajarnya kita melakukannya. Bahkan di komunitas-komunitas lain juga semakin memperkuat dalam saat teduh dan baca Firman. Ini menjadi penting karena hari-hari ini banyak hal-hal yang terjadi di dunia dan anak Tuhan harus mengambil sikap, contohnya LGBT. Firman menegaskan bahwa LGBT adalah dosa.
Tahun 2016, atau tahun 5776 dalam tahun Ibrani, adalah tahun Ayin Vav (disebut tahun Yobel terakhir). Disebut pula Yobel besar dari tahun-tahun Yobel yang sebelumnya. Pergantian tahun Ayin Vav terjadi pada 12 September 2015 yang lalu, bertepatan dengan blood moon. Ayin Vav bermakna “kait” yaitu pengait antara bumi dan surga yang berarti tahun Mesianik, tahun Mesias menyatakan dirinya. Banyak hamba Tuhan mengkotbahkan tentang akhir jaman. Respon kita bukanlah menjadi takut tapi WASPADA! Jika kita sekarang dipanggil pulang oleh Tuhan, apa poinnya? Masuk surga sudah pasti. Tapi di akhir jaman ini seharusnya membuat kita semakin bergegas melakukan Firman Tuhan. Pastikan keluarga dan teman-teman kita sudah lahir baru.
Bagi J4u sendiri, tahun 2016 adalah tahun pelipatgandaan. Berkat sudah pasti. Inilah waktunya melipatgandakan kasih kita kepada Kristus. Marilah kita menjadi serupa seperti Kristus.
Yehezkiel 47:1-12
Air semata kaki bermakna orang yang baru bertobat. Biasanya Tuhan cepat menjawab orang yang baru bertobat. Nah, di tahun ini bukan bicara seberapa lama kita bertobat, tapi kedekatan kita kepada Tuhan. Semakin banyak kita membangun hubungan dengan Tuhan, kita juga akan semakin terhubung dengan isi hati Tuhan. Ada kalanya kita belum meminta, Tuhan sudah jawab duluan. Bagi kita, mendengar suara Tuhan adalah BIASA. Ini sudah menjadi standar orang percaya. Hal yang menghalangi orang mendengar suara Tuhan adalah belum lahir baru atau orang tersebut tidak mau mendengar. Jika kita kuat dalam Firman, tidak ada satupun yang sanggup menggoncangkan kita.
Dari gambaran yang tertulis dalam kisah Yehezkiel ini, Tuhan ingin kita untuk “tenggelam”, tidak cukup kita terendam semata kaki, selutut, sepinggang. Marilah kita semakin menjaga kekudusan. Biarlah kasih semakin berlipatganda. Ampuni kesalahan orang lain. Singkirkan akar pahit.
Alami pelipatgandaaan, bahkan dalam pemuridan. Bersiaplah untuk memuridkan kapasitas kelas, aula, bahkan mengajar lintas generasi.
- Published in Catatan Khotbah
Pemuridan
Sabtu, 30 Januari 2016
Pembicara : Yorga Parnadi
Tema : Pemuridan
Venue : Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Teringat dengan lagu Don Moen yang berjudul “God is good all the Time”, sekarang saya bisa menyanyikannya sambil tertawa, tapi dulu saya hanya bisa menangis karena tidaklah sesuai dengan kenyataan ekonomi di waktu lalu. Saya mengerahkan hati dan pikiran kita untuk bilang YA, Tuhan baik! Hal ini harus kita lawan karena kekuatiran/kegetiran/kepahitan biasanya menghambat untuk kita melangkah dalam Tuhan, salah satunya untuk memuridkan.
Mari kita baca dalam Keluaran 16:4-25.
Jadi dari kisah tersebut tercatat bahwa Tuhan memberikan manna turun dari langit dan bangsa Israel hanya boleh memungut satu kali sehari. Ada sebuah rahasia di sini. Tiap-tiap orang diperintahkan mengambil 1 gomer (1/10 efa). Tapi ada saja yang mengambil lebih dari itu, besoknya justru busuk. Karakter orang tersebut biasanya kuatir, takut kurang/serakah. Dia juga malas, karena hari ini sudah ambil banyak, besok merasa tidak perlu ambil lagi. Inilah sikap yang salah. Berkat hari ini adalah untuk hari ini. Pengurapan hari ini adalah untuk hari ini. Tidak bisa kita ambil buat hari ini sebanyak-banyaknya sekaligus untuk simpanan hari-hari ke depan. Tidak bisa kita saat teduh 3 jam sekaligus supaya besok tidak perlu saat teduh.
Tapi ada yang unik. Perhatikan lagi bahwa pada hari ke-6, manna datang boleh diambil 2 kali lipat dan besoknya tidak busuk. Yang ini diperbolehkan. Jadi perkara mengambil manna 1 gomer atau 2 gomer, tergantung pada PERINTAH TUHAN. Di luar perintah Tuhan akan busuk. Inilah rahasianya. Di tangan kita ada Firman Tuhan. Firman berlaku untuk semua. Lalu kita mau apakan Firman tersebut?
Tahun ini kita harus fokus pada pemuridan. Hal ini juga berarti kita tidak membiarkan orang tidak dimuridkan padahal dia mau dimuridkan. Pemuridan bukanlah visi J4u belaka, tapi perintah Tuhan bagi SETIAP gereja-Nya. Bukalah di Matius 28:19-20. Yesus dengan jelas memerintahkan jadikanlah semua bangsa murid, bukan jemaat. Jadi kalau Tuhan sudah memberi perintah ini, kita juga dimampukan untuk melakukannya. Kenapa bukan Paulus yang pertama memuridkan seperti Yesus? Dia terpelajar, murid tunggal Gamaliel, warga Rum. Bukan Paulus yang Yesus pilih di awal, tetapi Petrus dahulu. Kita tahu Petrus adalah seorang nelayan, kurang terpelajar, meledak-ledak, berpotensi mempermalukan Yesus. Kita perhatikan bahwa memang murid-murid Yesus pun memiliki daya tangkap yang berbeda-beda. Mereka juga tidak semua langsung beriman. Tapi yang menentukan di sini adalah RESPON.
Apa yang menjadi penghalang kita untuk memuridkan?
Waktu? Tiap orang punya 24 jam tiap hari. Tergantung kita mengatur waktu kita. Renungkan lagi dalam sehari, seminggu, apa yang jadi agenda kita. Seringkali kita gagal merencanakan waktu kita, seolah-olah kita terbawa-bawa jadwal orang lain, acara TV, kesenangan pribadi, dll. Orang yang gagal merencanakan jadwalnya adalah orang yang berencana untuk gagal. Kesimpulannya SEDIAKANLAH waktu.
Tidak siap? Merasa tidak diurapi? Tentu saja seorang pemurid punya disiplin rohani. Dia membangun hidupnya dengan rutin. Saat teduh, baca Firman. Perkara pemuridan akan menggesek baik pemurid maupun murid itu sendiri. Tapi mari kita punya iman bahwa orang yang kita layani adalah orang-orang yang dasyat yang akan Tuhan bangkitkan, jadi caranya tidak biasa-biasa. Pastikan ada pewahyuan. Tidak bisa kita membagikan sesuatu dari orang lain, itu hanya akan menjadi pengetahuan, tidak ada alirannya. Karena pada waktunya anak murid akan bisa mengenali adanya aliran pewahyuan atau tidak. Salah satu sifat murid adalah memburu Tuhan. Dia tidak akan membiarkan Tuhan berdiam.Sukacitanya adalah ketika murid yang kita ajar bertumbuh.
Kitalah yang bayar harga. Sewaktu kita melakukan Firman, yaitu mulai memuridkan maka kita sedang menerobos penghalang-penghalang tersebut. Jangan seperti laut mati yang hanya bisa menerima. Jangan sampai kerohanian kita mati. Mari mulai PI dan bersaksi dimanapun kita berada. Tidak ada yang kebetulan jika kita ditempatkan di sekolah, kampus, atau bekerja di kantor yang sekarang. Mari mulai Memuridkan. Kita mungkin tidak tahu akan jadi apa anak-anak pada 10 tahun ke depan. Pada video tadi ada satu kalimat yang bagus, “Maukah kamu melakukan apapun untuk menjangkau saya?”. Ketika generasi ini terhilang, maka bangsa kita juga akan terhilang. Jadilah sama seperti Hana yang meminta dengan sungguh kepada Tuhan untuk memiliki keturunan. Kita malu ketika Tuhan panggil kita belum melakukan apa-apa untuk generasi ini.
Kembali ke manna. Ketika kita menerima manna tapi tidak dihabiskan, besoknya busuk. Kelakuan kita juga akan busuk. Pembelajar yang benar adalah yang mengajarkan kembali kepada orang lain. Kita memuridkan sesuai dengan apa yang diajarkan pada kita dan kita telah memiliki Firman tersebut.
Mari bayar harganya!
- Published in Catatan Khotbah
Kuasa Kesembuhan
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 28 November 2015
Pembicara: John Ronaldo
Tema : Kuasa Kesembuhan
Venue : Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Kesembuhan bicara tentang proses perubahan dari yang sakit, rusak, lemah menjadi sehat,pulih dan kuat. Di luar sana, banyak cara untuk memperoleh kesembuhan dengan berbagai pengobatan, baik secara medis ataupun alternatif. Tapi tidak ada yang bisa menjamin bahwa kesembuhan yang terjadi bersifat menetap atau permanen. Allah rindu supaya kita mengalami KESEMBUHAN ILAHI. Dapat dilihat dari pelayanan Yesus selama di bumi, Dia kerap menyembuhkan orang sakit. Mari kita sama-sama mencermati respon Yesus ketika bertemu dengan orang-orang sakit.
Di dalam Matius 8:3, “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.”
Yesus berkata Dia MAU menyembuhkan orang yang sakit kusta. Kusta adalah penyakit yang najis dan menular, maka dalam sejarah bangsa Israel, orang yang terkena kusta harus diasingkan ke luar kota, tinggal terpisah dari orang-orang yang sehat. Buat kita, kusta sangat menjijikan. Tapi Yesus MAU menyembuhkan. Orang kusta itupun sembuh. Jelas di sini bahwa kusta, yang adalah penyakit di fisik, TUHAN sembuhkan.
Dalam kisah yang lain pada Matius 8:7, Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.”
kita lihat bahwa Tuhan tidak pernah pikir-pikir, Tuhan akan DATANG. Perwira tersebut bahkan belum meminta Yesus untuk datang kepada hambanya yang sakit.
Selanjutnya, dalam Matius 9:22, Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.
Wanita yang sakit pendarahan tersebut memutuskan untuk menjamah jumbai jubah Yesus. Yesus melihat imannya, lalu meneguhkan. Kita tahu bahwa wanita tersebut sembuh seketika itu juga. Di dalam terjemahan KJV, kata menyelamatkan di sini dipakai kata make thee WHOLE. Whole berarti sempurna, seluruh, penuh.Kesembuhan ilahi yang Yesus maksudkan adalah tidak hanya fisik yang disembuhkan, tapi seluruhnya, yaitu roh, jiwa dan tubuh.
Sampai sini, renungkanlah apa yang menjadi kelemahan kita sekarang? Mintalah untuk Tuhan sembuhkan. Kesembuhan Ilahi membawa kita pada kondisi yang seharusnya. Tahir berbicara bersih/murni. Tanpa cela. Artinya dosa, pola pikir salah, beban, pergumulan, kelemahan juga Tuhan BERESKAN.
Lain halnya dalam kisah dua orang buta dalam Matius 9:28. Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.”
Respon orang buta itu mengejar Yesus, meskipun awalnya seperti Yesus seolah-olah tidak mempedulikan mereka. Tapi mereka tetap mengikuti Yesus sambil berseru-seru, bahkan sampai Yesus masuk ke dalam sebuah rumah.Yesus bertanya, apakah orang buta itu percaya bahwa Dia sanggup menyembuhkan. Percaya di sini adalah perkara percaya kepada Yesus. Dua orang buta ini dalam kondisi lemah iman. Maka Yesus balik bertanya yang sebenarnya menguji apakah mereka percaya pada Yesus atau cuma perlu kesembuhan saja.
Patut direnungkan, seringkali dalam perkara kesembuhan ilahi, orang terfokus kepada kesembuhannya atau hamba Tuhan yang menyembuhkan. Tapi apakah benar Yesus yang dicari? Hasil akhirnya akan berbeda. Lihat buah-buahnya. Lihat bagaimana kehidupan setelahnya. Apakah memuliakan Tuhan atau kembali pada kehidupan lama? Sekarang bertanyalah pada diri sendiri, apa yang kita sedang cari? Yesus atau kesembuhan?
Kesehatan itu sudah Tuhan berikan. Tapi BAGIAN kita untuk menjaga kesehatan. Mengucap syukurlah ketika kita hari ini masih bisa bernapas tanpa pakai selang dan infus. Mengucap syukurlah kalau kita sampai sekarang bisa bangun tidur dengan segar tanpa pegal-pegal. Sebuah penelitian mendapati bahwa orang yang tertidur sambil membawa masalah dan stres. Akibatnya tidur menjadi tidak berkualitas. Seorang pemazmur menulis “Thanksgiving is the key of success”. Ucapkanlah syukur sepanjang hari kita, untuk yang baik dan buruk dalam hidup kita.
INGATLAH bahwa kesehatan adalah tanggung jawab KITA untuk menjaganya. Jangan sampai ketika kita sakit, pekerjaan Tuhan terhambat, visi tertunda. Ada penyakit yang terjadi karena kelalaian kita. Padahal Tuhan telah menyediakan kesembuhan ilahi buat kita. Jangan sampai hal yang remeh dapat membuat kita tersandung.
Selanjutanya kita lihat dalam Matius 9:10-13,
10 Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
11 Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
12 Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
13 Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Semua orang dapat belas kasihan dari Tuhan. Bukan orang sehat yang butuh tabib. Orang yang sakitlah yang butuh tabib, mereka yang butuh dilayani. Kepada siapa saja yang kita temui, marilah kita miliki respon seperti Yesus. Yang Dia kehendaki adalah belas kasihan, bukan korban persembahan. Korban persembahan, bicara tentang bayar harga kita (waktu, uang, tenaga, dll), adalah merupakan suatu yang seharusnya dan semestinya. Tapi bicara belas kasihan, siapakah yang memilikinya?
Ketika Tuhan memberi instruksi, apakah kita hanya sekedar melakukan supaya Dia tidak marah? Atau kita melakukannya karena mengasihi Tuhan? Sekedar baca Firman, sekedar doa, tidaklah cukup. Sekedar datang ibadah, tidak membuat Tuhan berkenan. Tuhan tidak bisa dipermainkan. Jadilah dewasa. Dengan sikap hati yang salah, ibadah kita tidak berkenan di hadapanNya. Melakukan sesuatu ala kadarnya, tidak ada kuasanya. Melakukan sesuatu ala kadarnya, tidak akan berbuah. JADILAH DEWASA.
Mari kita buka dalam Matius 10:5-8.
5 Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,
6 melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.
7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.
8 Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
Setelah Yesus mengajar muridnya sekian waktu, tibalah waktunya untuk mereka diutus untuk mempraktekkan apa yang mereka terima dari Yesus untuk menyembuhkan yang sakit, tahirkan yang kusta dan mengusir setan. Kitapun juga Tuhan utus demikian. Berhentilah menunda-nunda. Lakukan saja. Kuasa tersebut ada pada kita. Sisanya urusan Tuhan. Biar Tuhan saja yang dimuliakan.
- Published in Catatan Khotbah
Mengasihi Tuhan
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 29 Agustus 2015
Pembicara : Yorga Parnadi
Tema : Mengasihi Tuhan
Venue: Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Matius 7:15-23 Ayat 15 mencatat, waspada dengan nabi-nabi palsu. Mereka menggunakan jubah domba. Dari dahulu sudah diperingatkan bahwa akan ada penyesat yang muncul. Menurut pengalaman saya, ada 2 jenis penyesat yang ada, yaitu:
1. Penyesat yang sudah sadar bahwa dia sesat dan akan menyesatkan orang lain.
2. Penyesat yang tidak sadar bahwa dia sedang menyesatkan. Untuk jenis pertama, mereka hidup seperti manusia normal dengan gaya kekinian. Tapi kejahatan hidup mereka telah ditutupi dengan berbagai macam filsafat.
Nah, jenis kedua yang lebih bahaya karena kadang banyak orang tidak menyadarinya. Lalu parahnya, mereka sudah terlalu banyak di gedung gereja. Penyesat yang tidak sadar menyesatkan orang lain hanya karena adanya perbedaan ajaran. Hal sederhana tentang bahasa roh. Banyak yang menolak bahwa bahasa roh itu benar dan kita berhak mendapatkannya. Ini menunjukkan hal yang sederhana dan ada tercatat dalam alkitab bahkan ditolak/disangkal. Kita anak muda seharusnya memiliki rasa penasaran (curiousity) yang besar untuk mengalami SEMUA yang ada di Firman. Kenapa pusing dengan hal-hal yang tidak tercatat di Firman. Lain lagi tentang berdoa sambil menangis. Mungkin buat sebagian orang, hal tersebut adalah aneh. Bukankah kita dapat menangis karena lawatan Tuhan yang turun dalam hidup kita. Tuhan sudah terlebih dahulu menjamah kita. Dan orang yang pernah menerima jamahan Tuhan PASTI ada perubahan.
Serigala menyamar sebagai domba. Seringkali kita mudah disesatkan karena kita masih menjadi domba. Jadilah rajawali yang justru memakan domba samaran tersebut. Lantas bagaimana membedakan domba asli dan domba palsu? Lihat ayat 16. Dari buahnya-lah kita dapat membedakannya. Jejak domba dan serigala juga berbeda. Perhatikan jejaknya, artinya kita harus merendahkan hati. Orang yang rendah hati akan sulit untuk disesatkan.
Sadarkah kita bahwa Tuhan sedang menguji kita? Jika kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan, maka Tuhan akan mengujinya dengan hal kasih juga. Para martir telah diuji kasihnya kepada Yesus dengan nyawa. Bagaimana dengan kita? Apa yang jadi pilihan kita sewaktu menghadapi fase-fase yang boleh terjadi? Sekolah, kuliah, pekerjaan, membangun keluarga. Ingatlah bahwa Tuhan selalu menguji. Misalnya dalam fase pekerjaan, jika kita tidak mengandalkan Tuhan maka kita akan menjadi workaholic (gila kerja), keras kepala/emosional, mulai tidak peka dengan suara Tuhan. Ini hal yang sulit bagi anak Tuhan, tapi bisa kita kerjakan. Seharusnya selain berkarir dengan baik, keluarga juga tidak dibiarkan terbengkalai. Kasih kita sedang diuji.
Ayat 21, tidak cukup hanya berseru pada Tuhan. Kita juga perlu mencari kehendak Bapa. Teruslah bertanya tentang apa yang sedang dan kita akan lakukan hari-hari ini. Ini juga sangat penting dalam pelayanan kepada Tuhan. Selain skill diperlukan pengurapan. Apa bedanya seorang pembicara dengan tukang obat jika tanpa pengurapan. Tentunya kita juga dapat mengenali mana yang melayani dengan pengurapan dan tanpa pengurapan.
Ayat 23, Yesus akan berterus terang bahwa Dia tidak mengenal mereka yang telah melakukan “pelayanan”. Hal ini cukup membingungkan karena sekalipun mereka telah membuat mujizat dan menyembuhkan orang sakit demi nama Yesus. Tapi Yesus menegaskan bahwa melakukan kehendak Bapa adalah hal yang utama. Artinya kita harus peka dengan suara Tuhan. Selanjutnya, mari kita buka di Wahyu 2:4. Tuhan mencela jemaat Efesus karena telah meninggalkan kasih yang mula-mula. Semua orang imannya akan diuji. Biarlah kita hari-hari ini melakukan segala sesuatu karena mengasihi Tuhan.
Peganglah Yesus kuat-kuat, jangan pernah jual iman kita dengan apapun.
- Published in Catatan Khotbah
Bayar Harga dan Mengikut Kristus
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 22 Agustus 2015
Pembicara: Puji Tania
Tema: Bayar Harga dan Mengikut Kristus
Venue: Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Ada dua konsep/ hal tertuang disini yang berdiri sendiri namun saling berkaitan satu dengan yang lain, yaitu: Bayar Harga dan Mengikut Yesus.
Dua hal ini masing – masing memiliki penjelasan dan pengertian yang mendalam dapat berdiri sendiri namun pada akhirnya saling berkaitan. Sebelum kita lihat keterkaitan satu dengan yang lain (yang nantinya dalam pembahasan masing – masing juga akan tersirat saling berkaitan) kita akan bahas satu per satu.
- Bayar harga
Istilah ini adalah idiom yang memiliki arti suatu konsekuensi/akibat/ dalam arti yang negatif sebagai resiko dari suatu hal yang ingin kita capai/dapatkan.
Misalnya:
- Ingin kurus, harga yang harus dibayar: olah raga lebih sering
- Ingin pintar, baca buku lebih banyak
- Ingin jadi pemurid, harus belajar untuk memuridkan, mengenal orang lain
“you have to pay the cost…”
Biasanya istilah bayar harga kita gunakan untuk menggambarkan satu pengorbanan atau suatu usaha yang harus kita lakukan. Begitu juga dalam diri kita. Apapun yang kita inginkan untuk mendapatkan/mencapai sesuatu ada harga yang harus dibayarkan. Tidak ada yang gratis. Hanya keselamatan yang gratis.
Pertanyaannya adalah, apa yang kita inginkan? Apa yang ingin kita selesaikan di bumi ini? Apa highest calling kita? Apa yang mau kita capai?
Lalu pertanyaan keduanya adalah
Siapkah kita dengan harga yang harus kita bayar untuk hal tersebut?
Harga dari sebuah janji Tuhan atau hadiah dari Tuhan yang ingin Dia berikan kepada kita itu sangat mahal.
Keselamatan itu diberikan secara cuma – cuma, tetapi menerima janji Tuhan dalam hidup kita itu tidaklah cuma – Cuma. Seluruh isi firman Tuhan dalam Alkitab berisi bagaimanaproses mengikut Kristus dan menikmati tiap langkah/fase dalam hal mencapai/ menerima janji Kristus.
Kita sebagai umat pilihan, memiliki privilege untuk menerima janji Tuhan. Begitu kita menerima keselamatan, maka hak sebagai ahli waris dan menerima Janji Tuhan sudah ada pada kita. Tetapi, sebagai ahli waris kita memiliki kewajiban.
Yang pertama yang harus kita terima itu adalah JANJI Tuhan itu sendiri, apa yang Tuhan berikan pada kita. Sebenarnya kita hanya menerima saja JANJI tersebut. Janji tersebut itulah yang harus kita dapatkan sendiri dari Tuhan. Apa janji Tuhan yang tertanam dalam hati kita? Apakah kita percaya bahwa kita akan mendapatkannya? Pastinya kita percaya. Tetapi apakah kita siap untuk membayar harga untuk memperoleh janji tersebut.
2. Mengapa ada istilah bayar harga dalam mengikut Kristus?
Bayar harga bukan sekedar pengorbanan dan konsekuensi, tetapi berbicara mengenaikeutamaan hidup kita adalah Kristus.
Hukum kasih itu jelas:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Kalau ditarik mundur hukum ini bicara mengenai keutamaan hidup kita adalah Kristus
Cinta itu memunculkan suatu pengorbanan. Tuhan cinta pada kita, ia mati bagi kita. Jika kita cinta pada Tuhan, apa yang sudah kita lakukan bagi Dia?
Yesus punya tujuan dan visi Dia ada di bumi ini, yaitu untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Ada harga yang harus Yesus Bayar untuk sebuah visi yang harus Ia selesaikan.
Yesus menjadi teladan bagi kita dalam segala hal, termasuk dalam hal untuk membayar harga. Tuhan Yesus mengajarkan pada kita mengenai bayar harga untuk mencapai suatu keinginan, suatu jawaban doa, suatu mujizat, visi, atau apapun juga yang ada di dalam hati kita.
Iman itu perisai, Firman Tuhan itu pedang, Kasut itu kerelaan.
KASUT ini adalah bicara untuk mulai melangkah. Tidak salah kalau kasut itu disimbolkan/diinterpretasikan dengan kerelaan. Kerelaan untuk melangkah.
Banyak diantara kita yang berat untuk melangkah. Kenapa, karena ketika kita memutuskan untuk “Ya, saya melangkah” maka artinya kita siap untuk memulai, maka harus siap dengan rela hati untuk berjalan dan menikmati setiap langkah demi langkah.
Tetapi Tuhan juga melengkapi kita dengan perlengkapan perang yang lain.
Mental, pikiran, jiwa, psikis ini adalah musuh kita. Karena disitu terdapat persepsi, kekhawatiran, pikiran negatif sehingga membuat kita enggan untuk melangkah. Padahal kalau kita menginginkan sesuatu atau kalau kita ingin mencapai suatu tujuan, tahap awal yang kita lakukan adalah melangkah. Tetapi satu langkah itu diikuti dengan satu konsekuensi. Dalam mengikut Kristus, konsekuensi ini identik dengan bayar harga.
Hal mengikut Yesus
Lukas 9:57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka,berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”
9:58 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia l tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
9:59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku! ” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.”
9:60 Tetapi Yesus berkata kepadanya:”Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”
9:61 Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. ”
9:62 Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Hal mengikut Yesus
Matius 8:18 Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.
8:19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”
8:20 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
8:21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”
8:22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka .”
Dalam Lukas 9 dan Matius 8 Yesus berfirman mengenai “Hal mengikut Yesus”
Yesus sendiri menjelaskan mengenai bagaimana Hal mengikut Yesus. Selain itu, Dalam Alkitab juga menjelaskan bagaimana Yesus memanggil 12 murid dan 70 murid untuk mengikut dia bahkan secara spesifik memberikan contoh gambaran mengenai bagaimana Yesus memanggil secara individual seorang Lewi pemungut cukai untuk mengikuti Dia.
Pasal dan ayat sebelumnya itu menjelaskan bagaimana Yesus menjalankan visiNya, menunaikan tugas tugasNya.
- Yesus menyembuhkan orang sakit
- Membuat tanda – tanda mujizat
- Yesus mengusir Setan
- Yesus khotbah
- Yesus diikuti oleh berbondong – bondong orang
Dan Alkitab mencatat mengenai kesan pendengar bahwa takjublah seluruh orang melihat apa yang dilakukan Yesus.
Seorang pemimpin, nabi, rasul, guru, penginjil dan Tuhan sedang ada di tengah negeri ini. Ketakjuban orang – orang mengakibatkan banyak orang yang “ingin menjadi sama seperti DIA”
Yesus sangat memahami itu, sehingga ia menjelaskan mengenai hal mengikut Yesus.
1.Orang – orang mendekat dan menawarkan diri pada Yesus (Matius 8:19). Ingin ikutan, takjub dan euphoria sesaat.
Respon Yesus: Yesus tidak serta merta menjawab, Ia memberikan tantangan kembali ( ayat20).
2. Orang yang mau ikut tapi bersyarat (ayat 21).
Respon Yesus: Yesus mengajak (ayat 22).
3. Orang yang kaya yang tidak mengerti kehendak Tuhan/Firman (Mat 19: 16 – 22)
Respon Yesus: Ia memberikan tantangan untuk mencapai kesempurnaan.
4. Orang berdosa/Pemungut cukai (Mat 9:9-12).
Yesus mengajak, dan pemungut cukai segera berdiri dan mengikut Yesus. Di awal mengikut Yesus, cemooh sudah datang. Tapi Yesus membela dan menghadapi orang – orang Farisi.
Orang pasti takjub atas apa yang dilakukan Yesus selama hidupNya. Dan orang – orang sangat ingin untuk dapat menjadi seperti Yesus, HANYA SAJA ORANG – ORANG TIDAK SANGGUP UNTUK MEMBAYAR HARGANYA.
3. Harga Apa Saja Yang Harus Kita Bayar?
*Menyalibkan Kedagingan
KataNya kepada mereka semua; “Setiap orang yang mau mengikut Aku, Ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23)
Matius 10: 34-42
10:34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai , melainkan pedang.
10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
10:40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
10:41Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.
10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya o dari padanya.”
*Kerelaan dan keberanian untuk kehilangan Kenyamanan hidup
Tuhan mau kita membayar dengan comfort zone kita. Comfort Zone itu membuat kitamalas untuk dapat bergerak keluar dan melakukan/ mencapai tujuan kita (atau apa yang Tuhan inginkan). Situasi nyaman membuat kita lebih mencintai kondisi kita dan enggan kembali kepada posisi yang Tuhan tetapkan bagi kita (ayat 34-36).
Rajin, keluar dari comfort zone-mu, sebab janji Tuhan “tangan orang rajin menguasai dunia”, jangan karena malas sehingga engkau tidak sanggup untuk menerima apa yang sebenarnya telah Tuhan sediakan.
*Memberikan Prioritas pada pekerjaan Tuhan
Melepaskan apa yang selama ini prioritas kita dan menggantikan prioritas kita pada Tuhan, di dalam Firman Tuhan digambarkan dengan nyawa seseorang. (ayat 39-40)
Tuhan tidak menginginkan hati kita melekat kepada orang lain, apapun dan siapapun (ayah, ibu, harta) (ayat 34-36)
Ketika Tuhan menjadi prioritas dalam hidupmu, maka Tuhan akan melindungi setiap apa pun yang dikerjakan karena kita melakukan semuanya hanya untuk Tuhan.
*Komitmen untuk melakukan apa yang Tuhan suruh kita lakukan
Ketika Tuhan minta kita untuk lakukan sekarang, kita lakukan dengan segera. Tidak melihat ke belakang (Luk 9:62). Ketika melangkah, jalan ke depan dan tidak lihat ke belakang lagi
Karena melihat ke belakang hanya akan menghambat langkahmu untuk melakukan kehendak Tuhan. Melangkahlah dan percayalah bahwa Tuhan menyertai.
4. Upah Dalam Mengikut Yesus
(Matius 19:27-30)
19:27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau;jadi apakah yang akan kami peroleh?”
19:28 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhtakemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.
19:29 Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.
19:30Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu. “
- Mendapat kedudukan dan kewenangan untuk menghakimi umat pilihan
- Tidak akan pernah kekurangan harta benda, saudara akan menerima berkalilipat
5. Menggenapi Visi dari Tuhan harus mau Bayar Harga
Kejadian 37, 39
Yusuf menerima Janji Tuhan melalu mimpi dan ia menyimpannya dalam hati. Yusuf membayar harga untuk menerima visi dari Tuhan.
Mimpi yang diberikan kepada Yusuf adalah sebuah visi. Harga yang Yusuf terima adalah cemooh, dibuang, difitnah, dan dipenjara.
Tetapi Yusuf tidak pernah menjadi luntur semangatnya. Ia tetap kerja, rajin, dia tidak menjadi goyah, percaya pada Tuhan ( menyimpan janji Tuhan dalam hidupnya), setia, menjaga kekudusan, menjaga kepercayaan, tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, hingga akhirnya Yusuf memenuhi visinya.
Dalam hal mengikut Yesus, apa yang sudah kita lakukan? Apa yang ingin kita terima dari Tuhan, Apakah kita sudah siap untuk membayar harganya?
Marilah kita bayar harganya.
- Published in Catatan Khotbah
Pasangan Hidup
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 14 Febuari 2015
Pembicara : Yorga Parnadi
Tema : Pasangan Hidup
Venue : Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Pernikahan adalah hal yang penting, bukan sesuatu yang sembarangan. Sebenarnya, ada orang-orang yang dipanggil untuk menikah, ada yang tidak menikah dan ada juga yang menyerahkan pernikahannya pada Tuhan. Maka dari itu, kita sebagai anak Tuhan memiliki cara berpasangan yang berbeda dengan dunia. Kita seringkali mendengar kata ”sepadan” di dalam berpasangan, mari kita cermati kitab Kejadian 2:18-20.
Pada ayat 18, Tuhan Allah berfirman:” Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan baginya.” Kita dapati bahwa ide awal kita berpasangan adalah dari Tuhan. Jika ide awalnya dari manusia, kita bisa salah berpasangan.
Selanjutnya di ayat 19, Tuhan memberi pekerjaan pada Adam. Adam adalah gambaran pria yang mengerjakan panggilan Tuhan. Ketika Adam bersatu dengan Hawa, maka ada tanggung jawab yang selanjutnya. Pria yang sudah berpasangan adalah pria yang siap dan tahu kapan menikah. Jika dia tidak tahu kapan akan menikah, maka sesungguhnya dia BELUM siap berpasangan, suatu saat jika dia mendapati ketidakcocokkan maka akan meninggalkan pasangannya.
Kita, pria atau wanita, bukanlah murahan. Tampan dan cantik tidak selalu bicara hal fisik. Film hollywood telah salah menampilkan arti kata pria macho dan perkasa hanya karena penampilan yang kekar. Pria perkasa sebenarnya adalah pria yang bisa menjaga komitmen, janji dan kesetiaannya. Contohnya adalah menjaga janji pernikahan. Orang yang melanggar janji pernikahannya akan menerima kutuk, karena janji pernikahan dilakukan di hadapan Tuhan dan jemaat Tuhan.
Amsal 18:22, ” Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN.”
Maka berdoalah pada Tuhan, siapakah pasangan hidup kita. Bukan dengan tebar pesona sana-sini. Berdoa di sini bukan bicara durasi, lama atau sebentar, justru akan bermanfaat sebagai berikut:
- Kita akan terjaga dari gampang jatuh cinta.
- Kita akan diajar oleh Tuhan tentang hal-hal sederhana untuk belajar bertanggung jawab.
- Kita menutup kemungkinan dari salah berpasangan.
- Kelemahan-kelemahan pribadi kita akan Tuhan hancurkan. Minder atau kesombongan.
Hati-hati terhadap motivasi yang salah dan kriteria-kriteria yang kita buat tapi bukan dari Tuhan. Serahkan kriteria yang kita buat pada Tuhan.
Amsal 19:14, “Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.”
Salah berpasangan justru membawa duka. Pertanyaannya adalah di mana kita mendapat pasangan yang berakal budi? Tidak mungkin kita mendapat pasangan di tempat hina. Anak Tuhan seharusnya mencarinya dengan berdoa. Setelah dapat konfirmasi dari Tuhan, barulah melakukan pendekatan, BUKAN pendekatan dulu baru berdoa.
Syarat-syarat yang harus digenapi:
- Kita sudah siap untuk memasuki pernikahan
- Jangan memilih pasangan karena selera kedagingan kita Amsal 31:30
- Jangan memilih hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan eksternal. (Kekayaan, Pendidikan Formal dll ). Amsal 10:22
- Lakukan proses Peneguhan sebelum menyatakan Cinta. Amsal 31:3
Kita bukanlah binatang yang menikah pada musimnya. Kita menikah pada WAKTUNYA Tuhan, bukan karena yang lain di sekitarnya sudah. Jadian juga bukan merupakan suatu perlombaan. Maka berdoalah yang benar, sehingga tidak menjadi khawatir.
Berikut ini adalah langkah-langkah untuk berdoa mengenai pasangan hidup:
- Berdoalah secara umum, bukan fokus pada satu orang. Tuhan akan berbicara melalui banyak hal. Jika belum peka, lebih baik perbaiki saat teduh kita dulu.
- Uji lagi. Terbukalah kepada pembimbing. Maurice Cerullo pernah berkata bahwa dalam urusan pasangan hidup tidak ada seorangpun yang terlalu peka, karena menyangkut emosional, maka perlu bantuan orang lain.
- Khusus bagi pria, tanya Tuhan kapan dan bagaimana menyatakan kepada calon pasangan. Hati-hati sembarangan bicara tentang wanita yang sedang kita doakan, ini untuk menghindari salah paham.
- Jika sang wanita punya pembimbing, pembimbing pria akan bertemu dengan pembimbing wanita, untuk menanyakan apakah sang wanita sedang berdoa tentang pasangan hidup atau tidak. Pembimbing wanita akan menyampaikan kepada sang wanita, bahwa ada pria yang sedang mendoakan dia, sampai situ saja, tidak perlu sampai ke detil.
- Jika sudah dapat konfirmasi dari Tuhan, sang pria tinggal info ke pembimbingnya untuk menyatakan kepada sang wanita. Pilihlah tempat dan waktu yang pas.
Lembaga pernikahan bukanlah lembaga penginjilan, justru sebelum menikah kita memastikan pasangan sudah lahir baru. 2 Korintus 6:14-15 menyatakan kita harus berpasangan dengan yang percaya.
Kecantikan atau Ketampanan Rohani
- Orang yang hidup dalam takut akan Tuhan. Mazmur 128:1
- Orang yang Cakap (keterampilan, intelektualitas, mau belajar). Amsal 12:4;31:10
- Orang yang berakal budi dan berhikmat. Amsal 19:14
- Lemah Lembut dan Tentram 1Petrus 3:4
Tuhan pasti memberi pasangan yang kita kasihi, hati-hati berburuk sangka pada Tuhan. Hindari pula membawa-bawa nama Tuhan atau menyalahkan Tuhan karena pasangan kita. Coba cek lagi proses di awalnya, bisa jadi ada yang salah di awalnya. Jika salah berpasangan, kita seperti memakai sepatu beda ukuran seumur hidup, tanggung sendiri resikonya.
Boaz dan Ruth (Terjadi pernikahan visi)
1. Dipertemukan di ladang Rut 2:5-6.
◦ Tuhan mempertemukan di ladangNYA.
◦ Mengetahui destiny Ilahi/visi.
2. Dimulai dari rasa kagum.
3. Melibatkan orang tua dan Pemimpin rohani sejak awal.
Pernikahan visi bicara tentang bagaimana menjalani visi berdua dengan pasangan. Jika hanya salah satu yang memiliki visi maka yang satu akan memadamkan yang lain. Nantinya akan bermasalah di bayar harga kepada Tuhan.
Dampak ketika kita berdoa berpasangan dengan benar:
- Pria menjadi orang yang bertanggung jawab
- Pihak wanita tidak begitu saja dapat dirugikan
- Hubungan yang dibangun akan tumbuh dengan sehat
- Jika ada “kasus-kasus khusus” maka Pemimpin rohani dapat mempersiapkan (misalnya dari pihak keluarga tidak setuju)
- Keluarga kedua belah pihak dapat mulai mempersiapkan diri dan mengenali
Sesi Tanya jawab:
Tanya : Bagaimana jika pasangan yang sudah yakin dari Tuhan tetapi sering terjadi perselisihan/pertengkaran dan merasa tidak cocok kemudian mulai ragu dengan jawaban Tuhan?
Jawab : Sebelum menikah memang masih boleh putus. Maka sebaiknya sebelum jadian, pastikan kita uji ulang dan sebagai pasangan saling membangun satu sama lain. Jika ada luka, maka dipulihkan dulu.
Tanya: Bagaimana membangun komunikasi yang baik jika keduanya sibuk pelayanan?
Jawab: Sebisa mungkin pasangan bisa mengatur waktu khusus (quality time). TIDAK BISA kita beralasan sibuk pelayanan tapi keluarga terlantar.
Tanya: Bagaimana jika pasangan memiliki visi yang berbeda?
Jawab: Coba cek ulang, apakah visi dari Tuhan atau hanya ambisi pribadi. Bisa jadi penyampaian yang berbeda tapi sebenarnya sejalan. Tetapi jika memang berbeda, maka kembali kepada pasangan tersebut apakah mau lanjut atau tidak, apakah mau memilih level pasangan yang memiliki visi atau sekedar berpasangan.
Tanya: Jika sudah menyatakan tetapi ditolak, bagaimana membereskan hati yang tertolak tersebut?
Jawab: Coba cermati, apakah muncul luka setelahnya? Mungkin kita terlalu fokus pada lukanya. Jika bukan dari Tuhan maka akan hilang. Kita harus membereskan luka tersebut, ampuni kejadiannya, supaya tidak terulang di pasangan yang sebenarnya, atau malah kita jadi takut berpasangan karena trauma ditolak sebelumnya. Bereskan di hadapan Tuhan.
Tanya: Bagaimana jika kita memiliki kriteria yang sudah kita tetapkan? Jika mendapat pasangan berbeda dengan kriteria, apakah harus ditolak?
Jawab: Ada kasus dimana Tuhan tidak menghilangkan kriteria kita, tetapi BERSIAPLAH dengan yang dari Tuhan. Menetapkan kriteria memang baik, hanya jangan sampai menolak yang dari Tuhan.
Tanya: Apakah yang dimaksud pernikahan visi disini harus sama atau boleh berbeda asal saling menerima dan mendukung?
Jawab: Tidak harus selalu sama. Misalnya pria di bidang pendidikan, wanita di bidang membangun generasi. Memang berbeda warna tapi sejalan. Contoh di Alkitab adalah Priskila dan Akwila. Priskila maju ke depan sedangkan Akwila mendukungnya dari belakang. Jangan sampai berlawanan, dibutuhkan kedewasaan lebih untuk bisa mengenali dan membicarakan teknis bersama-sama menjalankan visi.
- Published in Catatan Khotbah
Mendengar suara Tuhan dan melekat pada Tuhan
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 07 Februari 2015
Pembicara : Ade Nugroho
Tema : Mendengar suara Tuhan dan melekat pada Tuhan
Venue : Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Markus 4:1-20
Tahun ini adalah tahun percepatan, pastikan setiap kita punya telinga yang selalu peka mendengar Tuhan.
Ayat 9, Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
Telinga di sini bukan hanya bicara telinga jasmani, tetapi juga telinga rohani. Dalam Lukas 8:8, Dikatakan Yesus berseru, siapa mempunyai telinga hendaklah ia mendengar. Pastikan hari-hari ini kita memiliki telinga yang aktif untuk mendengar. Orang yang memiliki telinga selayaknya mendengar. Mendengar adalah sebuah kemampuan. Kitapun mampu mendengar suara Tuhan dengan presisi. Masalahnya kita mau melatihnya atau tidak. Memiliki Telinga yang peka bukan hanya untuk kita pribadi, tapi juga untuk memberkati sekitar kita.
Yesaya 50:4, “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”
Ayat ini digenapi di dalam Markus 1:35, pagi-pagi benar waktu hari masih gelap, Yesus bersaat teduh. Bukan sekedar aktifitasnya, tapi di situlah Tuhan membangun kita.
Kembali ke Markus 4:12, “supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.”
Alasan kita harus punya telinga yang peka adalah supaya kita mengerti maksud Tuhan. Matius 13:15, setelah kita mengerti, maka akan terjadi pemulihan. Kondisi apapun, bertanyalah pada Tuhan apa yang menjadi kehendakNya. Yang berikutnya, akan terjadi pertobatan. Ada langkah-langkah pertobatan, ada buah-buah pertobatan. Karena setiap anak Tuhan yang bertobat terjadi perubahan. Jika ada dua tiga orang menegur hal yang sama, maka koreksilah diri kita dan bertobatlah. Dampak yang berikutnya ketika kita mengerti kehendak Tuhan, akan terjadi percepatan. Terjadi terobosan-terobosan dalam tiap aspek hidup kita.
Di dalam perumpaan seorang penabur, keempat jenis orang tersebut bisa mendengar tapi kualitas hatinya berbeda. Mari kita cermati apa perbedaannya:
1. Ayat 15, “Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.”
Kualitas hati di pinggir jalan melambangkan orang-orang yang belum lahir baru, belum ada buah-buah pertobatan sejati. Tipe orang yang keras hati. Hidupnya jatuh bangun dalam dosa. Akibatnya tidak bisa mengenal kebenaran.
2. Ayat 16-17, “Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.”
Kualitas hati di tanah berbatu-batu melambangkan orang yang hidupnya dikuasai perasaan, bukan dikuasai iman. Betul memang dia meresponi Firman dengan gembira, tetapi terbawa kondisi. Tanah yang tipis melambangkan iman yang tipis. Hati-hati terhadap perasaan-perasaan(mood). Sikap kita seharusnya mengabaikan perasaan-perasaan yang bukan dari Tuhan. Kita hidup oleh karena iman.
3. Ayat 18-19, “Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.”
Kualitas hati yang di semak duri melambangkan orang yang khawatir dengan perkara penghidupan. Bisa diakibatkan oleh masa lalu yang pahit. Apa yang menjadi kekhawatiran kita hari-hari ini? Fokuslah pada ladang Tuhan yang ada padaMu. Masa depan kita sudah Bapa tanggung. Allah kita adalah Allah yang hidup dan mendengar.
Hati di semak belukar juga melambangkan orang yang hanya menerima Yesus sebagai juruselamat tapi tidak sebagai Tuhan. Artinya hidupnya tidak diserahkan semua kepada Tuhan. Maka, serahkan segala perkara kita pada Tuhan, maka Tuhan akan membela perkara kita.
4. Lukas 8:15, “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”
Kualitas hati di tanah yang baik melambangkan orang yang dewasa, tidak dikuasai oleh perasaan dan kekhwatiran, dia hanya dikuasai oleh iman. Ketika mendengar Firman, orang tersebut menyimpannya(merenungkan) dan melakukannya. Dalam bahasa lain, merenungkan berarti memperkatakannya berulang-ulang sampai telinga mendengar dan masuk ke dalam hati. Hati yang lembut adalah hati yang mau dibentuk Tuhan. Tanggalkan agenda kita dan karakter-karakter lama seperti malas dan kekanak-kanakan.
Di dalam tahun percepatan, tanggalkan yang lama. Apa yang kita anggap baik, tapi tidak berkenan di hadapan Tuhan, TINGGALKAN. Pertemanan-pertemanan yang tidak dari Tuhan, TINGGALKAN. Supaya kita siap masuk masa percepatan.
- Published in Catatan Khotbah
Takut akan Tuhan
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 31 Januari 2015
Pembicara : Yorga Parnadi
Tema : Takut akan Tuhan
Venue : Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Keluaran 15:22-27
Disebut Mara karena air di sana tidak bisa diminum, pahit rasanya. Dicatat dalam kitab Keluaran, bangsa Israel bersungut-sungut. Bersungut-sungut (berkomentar) dengan berdoa adalah berbeda. Dalam bahasa Inggris dipakai kata complain. Bangsa Israel komplain menyerang Musa. Ada komplain karena sesuatu yang wajar, komplain dengan bumbu kata-kata yang berlebihan dan tuduhan adalah TIDAK diperbolehkan.
Air seringkali diibaratkan sebagai Firman Tuhan. Banyak juga apa yang disampaikan di mimbar Tuhan isinya sakit hati/kepahitan baik berupa kotbah atau kesaksian. Kita sebagai murid berhak menyuruh orang tersebut diam. Peleter/gosip harus DIBUNGKAM, gosip itu seperti kanker. Hati-hati terhadap komplain dan gosip.
Tanda orang yang sering komplain:
1. Tidak beriman.
2. Tidak bertumbuh dalam iman dan kasih Tuhan.
3. Menunjukkan ketidakdewasaan dalam rohani maupun mental.
4. Dampaknya mendatangkan kutuk bagi hidupnya sendiri.
Hati-hati dalam pelayanan roh. Iblis akan mengganggu lewat peristiwa-peristiwa yang tidak biasa. Hati-hati, iblis sedang menguji emosi kita supaya pengurapan kita bocor, sehingga ketika kita sedang melayani, pengurapan sudah habis, seolah-olah tidak punya kekuatan roh. Ketika terjadi sesuatu yang luar biasa, berdiam dirilah, tanya kepada Tuhan. Orang boleh mereka-rekakan yang buruk tapi Tuhan merancangkan yang terbaik bagi kita. Belajarlah percaya pada Tuhan. Imani apa yang kita inginkan terjadi dalam hidup kita.
Musa ketika dipersalahkan bangsa Israel, tidak balik menyerang atau membela diri. Inilah contoh pemimpin yang baik. Hati-hati ketika menyalahkan Tuhan atau bawa-bawa nama Tuhan. Hati-hati bicara kehendak Tuhan tapi sebenarnya bukan, atau kita ingin supaya dianggap benar. Bukan masalah yang lebih besar, tapi Tuhan yang lebih besar. Tuhan tak pernah membiarkan kita sendiri. Bilangan 13:33 mencatat meskipun kita seolah-olah seperti belalang, Tuhan tetap lebih besar. Jangan lihat masalah saja, berdoalah. Tidak ada masalah yang lebih besar dari Tuhan. Alasan kenapa anak Tuhan berdoa tidak dijawab dan mengalami hal yang tidak perlu dialami, karena ketika kekhawatiran datang tidak ditangkis dengan peisai iman.
Kembali ke Keluaran 15:25, “Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,”
Setelah kayu dilemparkan, air menjadi manis. Tuhan menunjuk sebuah kayu, kayu bicara tentang salib. Bersama Tuhan Yesus, hidup kita akan menjadi manis. Ketika kekhawatiran datang, klaim janji Tuhan, bahwa masa depan kita damai sejahtera. Selain itu, mintalah kepada Tuhan dengan spesifik/detil. Sertakan Yesus di setiap aspek hidup kita. Yang lama berlalu, biar yang baru datang.
Ayat 26, “firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.”
Jika kita sungguh-sungguh mendengar suara Tuhan. Dari ayat ini, kita semua sesungguhnya bisa mendengar suara Tuhan, dan Tuhan tidak mungkin berdusta.
3 hal yang terjadi ketika seseorang lahir baru:
1. Segala dosa diampuni.
2. Telinga rohani terbuka.
3. Mata rohani terbuka.
Jadi tidak mungkin kita tidak bisa mendengar suara Tuhan. Bukan karena sekarang kita tidak bisa mendengar suara Tuhan, kita yang tidak terbiasa, karena dibutuhkan kerendahan hati. Tuhan bisa berbicara kepada siapa saja dengan cara apa saja. Di hati, di telinga, di kejadian-kejadian yang kita alami.
Yosua 7:1-21
Ayat 19-21 Apa yang diperbuat dengan sembunyi akan ada efeknya. Bukan takut kepada manusia, takutlah kepada Tuhan. Jangan lagi lakukan dosa tersembunyi, lebih baik bertobat saja, karena ada efeknya di masa depan. Dalam kisah Akhan, keluarga dibakar dan dilempari batu. Bagi kita yang melakukannya adalah keluarga kita akan keluar dari rencana TUhan atau membuka celah untuk iblis untuk menggocoh keluarga dan kita sendiri. Kita bisa saja membuat cerita yang meringankan dosa, tetapi sebenarnya Tuhan tahu dan melihat. Jika kita takut kepada Tuhan, maka tidak akan melakukan dosa.
Jika ada teman atau kenalan kita yang menggunakan narkoba, PUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN MEREKA! Hapus pertemanan di sosial media dan kontak HP. Supaya ketika pedang Tuhan turun, kita tidak ikut terseret. Marilah kita menyatakan kebenaran, bukan sok humanis.
Akhan melanggar barang yang dikhususkan Tuhan. Kalau sudah dikhususkan oleh Tuhan, ada dampaknya. Jika tidak dilakukan akan mengakibatkan kutuk. Apa yang jadi panggilan kita? Apa yang jadi visi kita? Lakukanlah. Seseorang yang melanggar Firman Tuhan, dia berdosa pada Tuhan dan dirinya sendiri. Ada dosa-dosa yang berdampak pada keturunan selanjutnya (misalnya dosa sihir, perbuatan amoral), kecuali keturunannya berobat dan kutuk itu dipatahkan.
Takutlah kepada Tuhan, bukan kepada manusia.
- Published in Catatan Khotbah
Respon yang Benar
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 24 Januari 2015
Pembicara : Yorga Parnadi
Tema :Respon yang Benar
Venue : Rg. Azalea 2, Lt.P1, BTC
Daniel 1:3-21
Mari kita belajar tentang bagaimana respon anak Tuhan yang seharusnya. Daniel, Hananiah, Mishael dan Azariah berasal dari golongan bangsawan. Ketika ada pengumuman tentang pencarian orang yang berhikmat dan baik perawakannya, mereka terpilih.Mereka telah mempersiapkan diri mereka. Bagaimana seseorang memiliki berbagai hikmat jika tidak rajin dari sekarang. Tidak ada yang tahu kapan promosi/pengangkatan tiba.Kita tidak percaya keberuntungan, kita percaya diberkati. Orang malas banyak ruginya, ketika waktunya Tuhan angkat, maka hanya orang yang rajin mempersiapkan saja yang dipilih. Hikmat itu bukanlah kepintaran. Hikmat berasal dari Tuhan dan ketekunan. Seringkali Tuhan gerakkan untuk melakukan sesuatu, misalnya kursus bahasa asing, mungkin kita merasa tidak penting, maka lakukan saja. Kita tidak tahu kapan waktunya hal tersebut diperlukan. Apakah kita benar-benar mengerti apa yang kita pelajari sekarang baik di sekolah atau kuliah? Bukan sekedar nilai baik atau buruk. Apakah kita menguasai bidang kita?
Ayat 8, “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.”
Di masa Daniel berlaku hukum taurat, ada makanan-makanan yang menurut taurat najis. Daniel dari awal sudah tegas dengan kebenaran Firman, bahwa hewan yang berkuku belah tidak boleh dimakan dagingnya. Contoh di jaman kita (perjanjian baru), tidak boleh makan darah. Sekalipun semua orang makan bersama-sama makanan yang mengandung darah, bagaimana sikap kita? Apakah kita kompromi dan tetap memakannya? HATI-HATI TERHADAP KOMPROMI!
Akibat kompromi:
1. Akan menimbulkan dampak.
2. Bisa jadi hal-hal lain pun kita kompromi.
Hal yang dasar tentang makanna dikompromi, keselamatan pun bisa dikompromi.Hati-hati dengan perkara kecil.
Karena Daniel yang berketetapan, Tuhan menjawabnya di ayat 9, ” Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu;” Daniel dikaruniakan kasih sayang. Dalam Lukas 2:49-52, Yesus juga memperoleh kasih sayang Bapa dan manusia. Banyak orang mencoba kompromi supaya disenangi manusia. Itu sikap yang bodoh. Bukan manusia yang kita takuti, tapi ketika kita taat kepada Tuhan, manusiapun akan mengasihi kita. Inilah perkenanan Tuhan
Ayat 11-12, “(11) Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: (12) Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum;”
Daniel menunjukkan kerendahan hati. Sekalipun kita diurapi luar biasa, justru semakin rendah hati, tidak sombong, bahasanya sopan, punya etika, bisa bawa diri. Anak Tuhan justru harus lebih jadi teladan. Marilah kita terbiasa setia terhadap perkara kecil, maka kita akan setia juga akan perkara besar. Ketika kita terbiasa tidak melanggar, tidak ada cela dalam hidup kita. HATI-HATI TERHADAP KOMPROMI!
Ayat 15, “Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.”
Ternyata hasilnya justru lebih gemuk dibanding yang lain. Terjadi mujizat. Tuhan turut campur tangan.Di titik kita melibatkan Tuhan, di sanalah kita meibatkan mujizat terjadi. Bersiaplah mengalami kekuatan yang mahadasyat mulai menggerakkan segala sesuatu untuk mendukung kita.
Ayat 17, “Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.”
Kepada keempatnya diberikan pengetahuan dan kepandaian, tapi hanya kepada Daniel diberikan pengertian tentang penglihatan dan mimpi. Setiap mimpi ada artinya, dibutuhkan hikmat untuk menterjemahkannya. Orang yang tegas mengikut Tuhan mendapat perkenanan Tuhan. Coba renungkan lagi apa yang Tuhan sudah dorong kita untuk lakukan, tidak ada kata terlambat, lakukan. Ketika Tuhan sudah beritahu visi kita, melangkahlah ke sana. Persiapkan diri kita. Jangan kompromi dengan kebenaran. Mulai sungguh-sungguh saat teduh, kita sedang melatih diri kita. Seringkali yang mengejek kita adalah orang terdekat, tapi teruslah berlatih.
Ayat 20, “Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.”
Daniel 10x lipat lebih baik di antara orang berilmu, dukun dan ahli nujum. Perkataan Daniel yang terjadi karena Tuhan beserta Daniel.
Daniel 9:3-7 Daniel berdoa dan berpuasa untuk kejelasan negerinya.
Daniel 10:16, “Tetapi sesuatu yang menyerupai manusia menyentuh bibirku; lalu kubuka mulutku dan mulai berbicara, kataku kepada yang berdiri di depanku itu: “Tuanku, oleh sebab penglihatan itu aku ditimpa kesakitan, dan tidak ada lagi kekuatan padaku.”
Kadang-kadang seseorang yang mendapat suatu yang mulia dan Ilahi, tubuhnya tidak mampu menanggungnya. Contoh: Hyde Prayer berdoa hingga organ hati berpindah posisi ke bawah, David Livingstone fisiknya rusak karena melakukan visi yang dari Tuhan di Afrika.Daniel berdoa hingga tembus. Setiap penghulu-penghulu Persia menghalangi tapi Daniel terus berdoa.
Kitapun harus demikian, terus berdoa hingga dapat jawabannya, sampai hati kita tembus. Tinggalkan doa-doa yang membosankan, mengantuk dan tidak ada kegairahan.Berdoalah dengan tekun dan agresif. Doa yang menjebol. Inilah yang kita harus latih. Seperti Daniel berdoa untuk bangsanya, kitapun harus berdoa buat bangsa kita. Tidak kebetulan kita beres puasa seminggu lalu, terjadi sesuatu pada bangsa ini. Tidak bisa kita apatis. Usahakan kesejahteraan kota dan bangsa dimana kita berada. Doakan para pemimpinnya. Persiapan diri kita, ketika Indonesia memerlukan, kita SIAP.
- Published in Catatan Khotbah



