Mengasihi Tuhan
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 29 Agustus 2015
Pembicara : Yorga Parnadi
Tema : Mengasihi Tuhan
Venue: Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Matius 7:15-23 Ayat 15 mencatat, waspada dengan nabi-nabi palsu. Mereka menggunakan jubah domba. Dari dahulu sudah diperingatkan bahwa akan ada penyesat yang muncul. Menurut pengalaman saya, ada 2 jenis penyesat yang ada, yaitu:
1. Penyesat yang sudah sadar bahwa dia sesat dan akan menyesatkan orang lain.
2. Penyesat yang tidak sadar bahwa dia sedang menyesatkan. Untuk jenis pertama, mereka hidup seperti manusia normal dengan gaya kekinian. Tapi kejahatan hidup mereka telah ditutupi dengan berbagai macam filsafat.
Nah, jenis kedua yang lebih bahaya karena kadang banyak orang tidak menyadarinya. Lalu parahnya, mereka sudah terlalu banyak di gedung gereja. Penyesat yang tidak sadar menyesatkan orang lain hanya karena adanya perbedaan ajaran. Hal sederhana tentang bahasa roh. Banyak yang menolak bahwa bahasa roh itu benar dan kita berhak mendapatkannya. Ini menunjukkan hal yang sederhana dan ada tercatat dalam alkitab bahkan ditolak/disangkal. Kita anak muda seharusnya memiliki rasa penasaran (curiousity) yang besar untuk mengalami SEMUA yang ada di Firman. Kenapa pusing dengan hal-hal yang tidak tercatat di Firman. Lain lagi tentang berdoa sambil menangis. Mungkin buat sebagian orang, hal tersebut adalah aneh. Bukankah kita dapat menangis karena lawatan Tuhan yang turun dalam hidup kita. Tuhan sudah terlebih dahulu menjamah kita. Dan orang yang pernah menerima jamahan Tuhan PASTI ada perubahan.
Serigala menyamar sebagai domba. Seringkali kita mudah disesatkan karena kita masih menjadi domba. Jadilah rajawali yang justru memakan domba samaran tersebut. Lantas bagaimana membedakan domba asli dan domba palsu? Lihat ayat 16. Dari buahnya-lah kita dapat membedakannya. Jejak domba dan serigala juga berbeda. Perhatikan jejaknya, artinya kita harus merendahkan hati. Orang yang rendah hati akan sulit untuk disesatkan.
Sadarkah kita bahwa Tuhan sedang menguji kita? Jika kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan, maka Tuhan akan mengujinya dengan hal kasih juga. Para martir telah diuji kasihnya kepada Yesus dengan nyawa. Bagaimana dengan kita? Apa yang jadi pilihan kita sewaktu menghadapi fase-fase yang boleh terjadi? Sekolah, kuliah, pekerjaan, membangun keluarga. Ingatlah bahwa Tuhan selalu menguji. Misalnya dalam fase pekerjaan, jika kita tidak mengandalkan Tuhan maka kita akan menjadi workaholic (gila kerja), keras kepala/emosional, mulai tidak peka dengan suara Tuhan. Ini hal yang sulit bagi anak Tuhan, tapi bisa kita kerjakan. Seharusnya selain berkarir dengan baik, keluarga juga tidak dibiarkan terbengkalai. Kasih kita sedang diuji.
Ayat 21, tidak cukup hanya berseru pada Tuhan. Kita juga perlu mencari kehendak Bapa. Teruslah bertanya tentang apa yang sedang dan kita akan lakukan hari-hari ini. Ini juga sangat penting dalam pelayanan kepada Tuhan. Selain skill diperlukan pengurapan. Apa bedanya seorang pembicara dengan tukang obat jika tanpa pengurapan. Tentunya kita juga dapat mengenali mana yang melayani dengan pengurapan dan tanpa pengurapan.
Ayat 23, Yesus akan berterus terang bahwa Dia tidak mengenal mereka yang telah melakukan “pelayanan”. Hal ini cukup membingungkan karena sekalipun mereka telah membuat mujizat dan menyembuhkan orang sakit demi nama Yesus. Tapi Yesus menegaskan bahwa melakukan kehendak Bapa adalah hal yang utama. Artinya kita harus peka dengan suara Tuhan. Selanjutnya, mari kita buka di Wahyu 2:4. Tuhan mencela jemaat Efesus karena telah meninggalkan kasih yang mula-mula. Semua orang imannya akan diuji. Biarlah kita hari-hari ini melakukan segala sesuatu karena mengasihi Tuhan.
Peganglah Yesus kuat-kuat, jangan pernah jual iman kita dengan apapun.
- Published in Catatan Khotbah
Bayar Harga dan Mengikut Kristus
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 22 Agustus 2015
Pembicara: Puji Tania
Tema: Bayar Harga dan Mengikut Kristus
Venue: Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Ada dua konsep/ hal tertuang disini yang berdiri sendiri namun saling berkaitan satu dengan yang lain, yaitu: Bayar Harga dan Mengikut Yesus.
Dua hal ini masing – masing memiliki penjelasan dan pengertian yang mendalam dapat berdiri sendiri namun pada akhirnya saling berkaitan. Sebelum kita lihat keterkaitan satu dengan yang lain (yang nantinya dalam pembahasan masing – masing juga akan tersirat saling berkaitan) kita akan bahas satu per satu.
- Bayar harga
Istilah ini adalah idiom yang memiliki arti suatu konsekuensi/akibat/ dalam arti yang negatif sebagai resiko dari suatu hal yang ingin kita capai/dapatkan.
Misalnya:
- Ingin kurus, harga yang harus dibayar: olah raga lebih sering
- Ingin pintar, baca buku lebih banyak
- Ingin jadi pemurid, harus belajar untuk memuridkan, mengenal orang lain
“you have to pay the cost…”
Biasanya istilah bayar harga kita gunakan untuk menggambarkan satu pengorbanan atau suatu usaha yang harus kita lakukan. Begitu juga dalam diri kita. Apapun yang kita inginkan untuk mendapatkan/mencapai sesuatu ada harga yang harus dibayarkan. Tidak ada yang gratis. Hanya keselamatan yang gratis.
Pertanyaannya adalah, apa yang kita inginkan? Apa yang ingin kita selesaikan di bumi ini? Apa highest calling kita? Apa yang mau kita capai?
Lalu pertanyaan keduanya adalah
Siapkah kita dengan harga yang harus kita bayar untuk hal tersebut?
Harga dari sebuah janji Tuhan atau hadiah dari Tuhan yang ingin Dia berikan kepada kita itu sangat mahal.
Keselamatan itu diberikan secara cuma – cuma, tetapi menerima janji Tuhan dalam hidup kita itu tidaklah cuma – Cuma. Seluruh isi firman Tuhan dalam Alkitab berisi bagaimanaproses mengikut Kristus dan menikmati tiap langkah/fase dalam hal mencapai/ menerima janji Kristus.
Kita sebagai umat pilihan, memiliki privilege untuk menerima janji Tuhan. Begitu kita menerima keselamatan, maka hak sebagai ahli waris dan menerima Janji Tuhan sudah ada pada kita. Tetapi, sebagai ahli waris kita memiliki kewajiban.
Yang pertama yang harus kita terima itu adalah JANJI Tuhan itu sendiri, apa yang Tuhan berikan pada kita. Sebenarnya kita hanya menerima saja JANJI tersebut. Janji tersebut itulah yang harus kita dapatkan sendiri dari Tuhan. Apa janji Tuhan yang tertanam dalam hati kita? Apakah kita percaya bahwa kita akan mendapatkannya? Pastinya kita percaya. Tetapi apakah kita siap untuk membayar harga untuk memperoleh janji tersebut.
2. Mengapa ada istilah bayar harga dalam mengikut Kristus?
Bayar harga bukan sekedar pengorbanan dan konsekuensi, tetapi berbicara mengenaikeutamaan hidup kita adalah Kristus.
Hukum kasih itu jelas:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Kalau ditarik mundur hukum ini bicara mengenai keutamaan hidup kita adalah Kristus
Cinta itu memunculkan suatu pengorbanan. Tuhan cinta pada kita, ia mati bagi kita. Jika kita cinta pada Tuhan, apa yang sudah kita lakukan bagi Dia?
Yesus punya tujuan dan visi Dia ada di bumi ini, yaitu untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Ada harga yang harus Yesus Bayar untuk sebuah visi yang harus Ia selesaikan.
Yesus menjadi teladan bagi kita dalam segala hal, termasuk dalam hal untuk membayar harga. Tuhan Yesus mengajarkan pada kita mengenai bayar harga untuk mencapai suatu keinginan, suatu jawaban doa, suatu mujizat, visi, atau apapun juga yang ada di dalam hati kita.
Iman itu perisai, Firman Tuhan itu pedang, Kasut itu kerelaan.
KASUT ini adalah bicara untuk mulai melangkah. Tidak salah kalau kasut itu disimbolkan/diinterpretasikan dengan kerelaan. Kerelaan untuk melangkah.
Banyak diantara kita yang berat untuk melangkah. Kenapa, karena ketika kita memutuskan untuk “Ya, saya melangkah” maka artinya kita siap untuk memulai, maka harus siap dengan rela hati untuk berjalan dan menikmati setiap langkah demi langkah.
Tetapi Tuhan juga melengkapi kita dengan perlengkapan perang yang lain.
Mental, pikiran, jiwa, psikis ini adalah musuh kita. Karena disitu terdapat persepsi, kekhawatiran, pikiran negatif sehingga membuat kita enggan untuk melangkah. Padahal kalau kita menginginkan sesuatu atau kalau kita ingin mencapai suatu tujuan, tahap awal yang kita lakukan adalah melangkah. Tetapi satu langkah itu diikuti dengan satu konsekuensi. Dalam mengikut Kristus, konsekuensi ini identik dengan bayar harga.
Hal mengikut Yesus
Lukas 9:57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka,berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”
9:58 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia l tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
9:59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku! ” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.”
9:60 Tetapi Yesus berkata kepadanya:”Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”
9:61 Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. ”
9:62 Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Hal mengikut Yesus
Matius 8:18 Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.
8:19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”
8:20 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
8:21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”
8:22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka .”
Dalam Lukas 9 dan Matius 8 Yesus berfirman mengenai “Hal mengikut Yesus”
Yesus sendiri menjelaskan mengenai bagaimana Hal mengikut Yesus. Selain itu, Dalam Alkitab juga menjelaskan bagaimana Yesus memanggil 12 murid dan 70 murid untuk mengikut dia bahkan secara spesifik memberikan contoh gambaran mengenai bagaimana Yesus memanggil secara individual seorang Lewi pemungut cukai untuk mengikuti Dia.
Pasal dan ayat sebelumnya itu menjelaskan bagaimana Yesus menjalankan visiNya, menunaikan tugas tugasNya.
- Yesus menyembuhkan orang sakit
- Membuat tanda – tanda mujizat
- Yesus mengusir Setan
- Yesus khotbah
- Yesus diikuti oleh berbondong – bondong orang
Dan Alkitab mencatat mengenai kesan pendengar bahwa takjublah seluruh orang melihat apa yang dilakukan Yesus.
Seorang pemimpin, nabi, rasul, guru, penginjil dan Tuhan sedang ada di tengah negeri ini. Ketakjuban orang – orang mengakibatkan banyak orang yang “ingin menjadi sama seperti DIA”
Yesus sangat memahami itu, sehingga ia menjelaskan mengenai hal mengikut Yesus.
1.Orang – orang mendekat dan menawarkan diri pada Yesus (Matius 8:19). Ingin ikutan, takjub dan euphoria sesaat.
Respon Yesus: Yesus tidak serta merta menjawab, Ia memberikan tantangan kembali ( ayat20).
2. Orang yang mau ikut tapi bersyarat (ayat 21).
Respon Yesus: Yesus mengajak (ayat 22).
3. Orang yang kaya yang tidak mengerti kehendak Tuhan/Firman (Mat 19: 16 – 22)
Respon Yesus: Ia memberikan tantangan untuk mencapai kesempurnaan.
4. Orang berdosa/Pemungut cukai (Mat 9:9-12).
Yesus mengajak, dan pemungut cukai segera berdiri dan mengikut Yesus. Di awal mengikut Yesus, cemooh sudah datang. Tapi Yesus membela dan menghadapi orang – orang Farisi.
Orang pasti takjub atas apa yang dilakukan Yesus selama hidupNya. Dan orang – orang sangat ingin untuk dapat menjadi seperti Yesus, HANYA SAJA ORANG – ORANG TIDAK SANGGUP UNTUK MEMBAYAR HARGANYA.
3. Harga Apa Saja Yang Harus Kita Bayar?
*Menyalibkan Kedagingan
KataNya kepada mereka semua; “Setiap orang yang mau mengikut Aku, Ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23)
Matius 10: 34-42
10:34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai , melainkan pedang.
10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
10:40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
10:41Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.
10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya o dari padanya.”
*Kerelaan dan keberanian untuk kehilangan Kenyamanan hidup
Tuhan mau kita membayar dengan comfort zone kita. Comfort Zone itu membuat kitamalas untuk dapat bergerak keluar dan melakukan/ mencapai tujuan kita (atau apa yang Tuhan inginkan). Situasi nyaman membuat kita lebih mencintai kondisi kita dan enggan kembali kepada posisi yang Tuhan tetapkan bagi kita (ayat 34-36).
Rajin, keluar dari comfort zone-mu, sebab janji Tuhan “tangan orang rajin menguasai dunia”, jangan karena malas sehingga engkau tidak sanggup untuk menerima apa yang sebenarnya telah Tuhan sediakan.
*Memberikan Prioritas pada pekerjaan Tuhan
Melepaskan apa yang selama ini prioritas kita dan menggantikan prioritas kita pada Tuhan, di dalam Firman Tuhan digambarkan dengan nyawa seseorang. (ayat 39-40)
Tuhan tidak menginginkan hati kita melekat kepada orang lain, apapun dan siapapun (ayah, ibu, harta) (ayat 34-36)
Ketika Tuhan menjadi prioritas dalam hidupmu, maka Tuhan akan melindungi setiap apa pun yang dikerjakan karena kita melakukan semuanya hanya untuk Tuhan.
*Komitmen untuk melakukan apa yang Tuhan suruh kita lakukan
Ketika Tuhan minta kita untuk lakukan sekarang, kita lakukan dengan segera. Tidak melihat ke belakang (Luk 9:62). Ketika melangkah, jalan ke depan dan tidak lihat ke belakang lagi
Karena melihat ke belakang hanya akan menghambat langkahmu untuk melakukan kehendak Tuhan. Melangkahlah dan percayalah bahwa Tuhan menyertai.
4. Upah Dalam Mengikut Yesus
(Matius 19:27-30)
19:27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau;jadi apakah yang akan kami peroleh?”
19:28 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhtakemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.
19:29 Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.
19:30Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu. “
- Mendapat kedudukan dan kewenangan untuk menghakimi umat pilihan
- Tidak akan pernah kekurangan harta benda, saudara akan menerima berkalilipat
5. Menggenapi Visi dari Tuhan harus mau Bayar Harga
Kejadian 37, 39
Yusuf menerima Janji Tuhan melalu mimpi dan ia menyimpannya dalam hati. Yusuf membayar harga untuk menerima visi dari Tuhan.
Mimpi yang diberikan kepada Yusuf adalah sebuah visi. Harga yang Yusuf terima adalah cemooh, dibuang, difitnah, dan dipenjara.
Tetapi Yusuf tidak pernah menjadi luntur semangatnya. Ia tetap kerja, rajin, dia tidak menjadi goyah, percaya pada Tuhan ( menyimpan janji Tuhan dalam hidupnya), setia, menjaga kekudusan, menjaga kepercayaan, tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, hingga akhirnya Yusuf memenuhi visinya.
Dalam hal mengikut Yesus, apa yang sudah kita lakukan? Apa yang ingin kita terima dari Tuhan, Apakah kita sudah siap untuk membayar harganya?
Marilah kita bayar harganya.
- Published in Catatan Khotbah
Beban Jiwa-jiwa
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 15 Agustus 2015
Pembicara: Ade Nugroho
Tema: Beban Jiwa-Jiwa
Venue: Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Beberapa pekan yang lalu kita telah belajar tentang bagaimana dipenuhi hadirat Tuhan. Setiap kita punya akses langsung untuk menghadap Tuhan, bahwa Sang Pencipta tinggal diam dalam hati kita melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Tuhan SUDAH merestorasi hubungan dengan manusia, tinggal kita yang memutuskan untuk tetap di dalam Dia.
Mari kita lihat kembali di Yohanes 14:12-31. Yesus ada dalam diri kita. Yesus berkata jika kita percaya pada Yesus, kita akan melakukan perkara-perkara yang besar bahkan lebih dari apa yang telah tercatat di Alkitab. Tapi banyak anak Tuhan seolah-olah tidak disertai kuasa. Gereja saat ini seolah-olah tidak berotoritas. Padahal Tuhan mau gereja-Nya bangkit di akhir jaman ini.
Kembali ke ayat 12, ternyata kuncinya adalah PERCAYA. PERCAYA dibangun melalui hubungan. Mulailah dengan berdoa sesuai kehendak-Nya. Di ayat 13, Bapa menjawab segala sesuatu yang kita minta melalui Yesus, supaya Bapa dipermuliakan. Ayat 14, siapa mengasihi Tuhan akan melakukan apa yang Tuhan perintahkan.
Ayat 17, kita dimampukan untuk mengenal Tuhan melalui Roh Kudus yang tinggal dalam kita. Ayat 23, sekali lagi Yesus mengulang bahwa yang mengasihi Tuhan adalah yang melakukan perintah-Nya. Mulai dari mengasihi yang terlihat yaitu pembimbing kita. Mungkin pembimbing kita banyak kekurangan. Tapi di dalam beliau, ada otoritas Tuhan mengalir kepada hidup kita. Apapun disiplin yang kita hari-hari ini, LAKUKANLAH. Maka kita akan terbiasa melakukan perintah-Nya.
Ayat 27, damai sejahtera tidak dapat kita temukan di dunia ini. Kita menyelam ke tubir laut, kita pergi ke ujung dunia, tapi dimanakah damai sejahtera dapat ditemukan. Yesuslah yang meninggalkan damai sejahtera. Ketika kita menerima Yesus, kita juga MENERIMA damai sejahtera. Sekali lagi, kita akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar karena kita memiliki otoritas ilahi dengan kita membangun hubungan dengan Tuhan.
Mari kita buka di Yesaya 41:1-20. Ada beberapa dampak ketika kita memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan:Ayat 1, kita mendapatkan kekuatan yang baru.Ayat 2, kita dapat hidup berkemenangan di setiap langkah. Ayat 4, Tuhan yang membangkitkan keturunan demi keturunan bagi kita. Jika Tuhan telah memberikannya, maka Dia juga akan memberikan kemampuan untuk membentuk mereka. Ketiga hal di atas PASTI kita alami karena Tuhan yang mengerjakannya. Tetapi dari kesemuanya itu, Tuhan juga mau kita mendukung satu sama lain.
Ayat 6-7 mengajarkan untuk tidak boleh malu meminta pertolongan satu kepada yang lain, bahkan dari yang lebih muda. Kemudian, saling mendukung dengan menghargai satu sama lain. Kuatkan hati yang lemah. Tuhan tidak mematahkan buluh yang terkulai. Tuhan juga tidak pernah memadamkan sumbu yang telah pudar.
Selanjutnya dalam ayat 10, Tuhan yang meneguhkan setiap kita. Apa yang menjadi keraguan kita, Tuhan akan terus menyatakan apa yang seharusnya terjadi bagi hidup kita. Begitu kita terhubung dengan Tuhan, maka ada hal-hal mustahil yang terjadi.
Ayat 18-20 mencatat, air memancar dari tanah kering, padang gurun menjadi telaga. Inilah yang akan terus terjadi dalam hidup kita. Kita akan berjalan dalam kemustahilan. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Apa lagi yang akan terjadi dalam hidup kita ketika kita terus membangun hubungan dengan Tuhan? Ingat kembali kisah Elia dalam perjanjian lama. Elia menyatakan kuasa Tuhan bagi bangsa Isarel. Tanah yang telah lama kering menjadi dibasahi hujan kembali. Kisah ini dicatat kembali dalam Yakobus 5:17-18. Elia adalah orang biasa sama seperti kita. Lalu bagaimana Tuhan dapat memakai Elia dengan begitu luar biasa? Dia memulainya dengan DOA.
Ayo buka 1 Raja-raja 18:41-45. Elia terus berdoa sampai jawaban Tuhan terjadi. Sampai awan muncul sebesar telapak tangan di langit. Inilah salah satu cara mendemonstrasikan kuasa Tuhan. Hari-hari ini, jika kita mau mengalami kuasa Tuhan terjadi, TERUSLAH BERDOA. TERUSLAH BERDOA. TERUSLAH BERDOA. Sampai sesuatu terjadi! Apapun perkara kita, teruslah berdoa. Keluarga yang bermasalah, teruslah berdoa. Sakit yang tidak kunjung sembuh, teruslah berdoa. Sekolah dan kampus kita yang terpuruk, teruslah berdoa. Bujangnya Elia meresponi perintah Elia untuk pergi melihat awan yang muncul. Ketika mujizat terjadi, mana mungkin kita tidak bersukacita!
Setelah semuanya terjadi, mari kita belajar dari kitab Zakaria 4:6. Ingatlah bahwa semua itu bukan karena kekuatan / kuasa kita. Biarlah kemuliaan hanya bagi Tuhan. Kembalikan itu buat Tuhan. Tidak bisa kita bermegah dengan kejayaan masa lalu. Bersyukurlah senantiasa untuk apa yang Tuhan boleh ijinkan terjadi dalam hidup kita.
Karena semua itulah kita dipenuhi oleh Tuhan. Untuk terus mengenal Tuhan dan senantiasa mengucap syukur pada-Nya.
Mari kita terus membangun hubungan dengan Tuhan.
- Published in Catatan Khotbah
Dipenuhi Hadirat Tuhan
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 25 Juli 2015
Pembicara: Ade Nugroho
Tema: Dipenuhi Hadirat Tuhan
Venue: Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Ada 3 dimensi hadirat Tuhan.
1. Omnipresence
Tuhan ada/hadir di mana-mana. Tapi ini bukan berarti ada Tuhan yang lain yang boleh disembah, yang melahirkan animisme dan dinamisme. Tidak boleh ada Allah lain dalam diri kita.
2. Manifested presence
Kehadirannya nyata yang dimanifestasikan, ada tanda-tanda yang menyertai. Firmannya dimana ada dua tiga orang berkumpul, maka ada Tuhan hadir. Banyak anak Tuhan berhenti sampai di sini. Cukup puas mengalami Tuhan di tempat-tempat ibadah atau kamar saat teduh. Padahal ada dimensi yang ketiga.
3. Indwelling presence
Suatu hadirat Tuhan yang nyata dan tinggal diam, menetap. Begitu nyatanya, sehingga kata Petrus, Firman itu bisa diraba.Jika kita tidak mengerti dimensi ketiga, maka kita tidak teguh ketika menghadapi permasalahan, merasa kekeringan. Tuhan hadir di dalam kita dimanapun kita berada. Kita tidak bergantung pada suatu tempat tertentu. Inilah yang dimaksudkan dari dimensi ketiga. Dia ada di dalam kita.
Mari kita cermati dalam Keluaran 25:8. Manusia, Adam dan Hawa, memiliki kuasa. Tetapi ketika jatuh dalam dosa, mereka tidak dapat lagi bergaul dengan Tuhan. Dalam Keluaran 25:8, Bapa ingin merestorasi hubungan dengan manusia seperti jaman Adam dan Hawa. “Dan mereka (Bangsa Israel) harus membuat TEMPAT KUDUS bagiKu, supaya AKU DIAM (dwell) di tengah-tengah mereka.”Bapa tidak bisa bercampur dengan dosa. Dia mau ada suatu tempat yang kudus. Maka dibangunlah kemah suci.
Di dalam Keluaran 40:1, terdapat 3 Bagian Kemah Suci:1. Ruang Maha Kudus : Tabut Tuhan (di dalamnya terdapat manna, 2 loh batu, tongkat Harun yang berbunga).2. Ruang Kudus : Meja roti sajian, kandil, mezbah pembakaran ukupan.3. Pelataran : Mezbah korban Bakaran, bejana pembasuhan. Bagian korban, sudah dilakukan oleh Tuhan Yesus sekali untuk selama-lamanya. Bagian kita adalah menyerahkan daging/kesukaan kita. Tuhan Hadir ketika ada korban.Seluruh perkakas/alat disucikan. Artinya ada bagian-bagian hidup kita yang dikuduskan bagi Tuhan.
Kemah suci melambangkan hidup orang yang telah ditebus. Kita yang telah ditebus berada di ruang maha kudus. Dari sini ada 3 tipe orang.
1. Tipe orang di pelataran. Adalah orang yang sibuk dengan dirinya sendiri. Masih jatuh bangun dalam dosa.
2. Tipe orang di ruang kudus. Orang yang rindu menyenangkan hati Tuhan. Dipenuhi pujian dan penyembahan. Pujian dan penyembahan bukan sekedar bernyanyi, tapi keluar dari hati karena adanya pengenalan akan Tuhan.
3. Tipe orang di ruang maha kudus. Orang yang hanya fokus tinggal diam dan tenang mendengar suara Tuhan. Dia bayar harga dan bertekun dalam Tuhan.
Ayo berpindah dari pelataran, ruang kudus ke ruang maha kudus.
Orang yang sungguh mengasihi Tuhan tidak mudah jatuh dalam dosa. Ada yang aneh jika masih jatuh bangun dalam dosa. Tentunya ada disiplin yang terlewat. Maka bangkitlah dan lakukan kembali disiplin yang Tuhan sudah taruhkan dalam hidup kita. Tinggal-lah dalam ruang maha kudus, bukan keluar masuk, bolak balik.
Apa yang terjadi di ruang maha kudus?
Mari kita perhatikan di (Ibrani 9:6-7).Hanya Imam Besar yang boleh masuk 1 kali setahun (Ibrani 9:6-7)Yesus telah menjadi Imam Besar bagi kita (Ibrani 9:11-14).Sehingga kita BERANI masuk ruang maha kudus (Ibrani 10:19, Matius 27:51). Tirai yang membatasi ruang kudus dan maha kudus sangat tebal. Tapi ketika Yesus disalib, tirai ini terbelah. Sejak itu tidak ada lagi tirai yang membatasi semua orang untuk masuk ruang maha kudus, yang adalah tempat dimana kita mengalami Tuhan. SIAPA SAJA boleh masuk ruang maha kudus, melalui Yesus.Yesus MERESTORASI hubungan kita dengan Bapa, Bapa tinggal, hadir, diam dalam kita dan kita Tinggal dalam Bapa. Bapa tidak jauh. Di titik ini, mana mungkin kita tidak mengalami Tuhan.
Bagaimana untuk terus tinggal dalam hadirat Tuhan?
1. Tinggal dalam Pujian Penyembahan dan Doa (berbahasa roh). Lakukan dengan cara yang berbeda. Lakukan dengan agresif. Tidak bisa lagi kita
2. Keluaran 27:20–21, Lampu harus tetap MENYALA. Lampu bicara Firman.
3. Mengembangkan roh haus dan lapar. Firman berkata, hendaklah kita miskin di hadapan Tuhan, yang selalu rindu mendapatkan lebih dan lebih dan lebih lagi. Kita percaya bahwa pengenalan akan Tuhan selalu baru setiap hari. Tidak lagi kita menjadi meremehkan suatu Firman karena merasa sudah pernah mendengar Firman tersebut. Jadilah agresif. Selalu rindu Tuhan melawat kita. Mulailah dengan berpuasa.
4. Disiplin Melakukannya (Mazmur 119:105)
Manfaat dipenuhi hadirat Tuhan.
1. Hadirat Tuhan membawa kesadaran roh dan menyingkirkan kematian (Yeh 47:1-9). Kita menjadi peka mendengar suara Tuhan. Kita tersadar akan dosa. Kematian menyingkir karena kita membawa hadirat Tuhan, tempat-tempat yang kita injak terdapat kehidupan.
2. Hadirat Tuhan menyegarkan Jiwa (Mazmur 23:1-2). Kita hidup penuh dengan tekanan. Ketika kita sadar ada Tuhan yang tinggal dalam kita, maka kita bisa bertemu dengan Tuhan di manapun. Kita bisa menyembah Tuhan dan kita mulai disegarkan kembali.
3. Hadirat Tuhan memberi beban buat jiwa-jiwa (Mazmur 51:13-15). Ini adalah Mazmur yang ditulis ketika sang pemazmur sedang bergumul. Tidak mau dia kehilangan Roh Kudus. Orang yang tinggal dalam hadirat Tuhan, pasti dia memiliki beban jiwa-jiwa. Sebaliknya, ketika kita tidak memiliki beban jiwa-jiwa, maka kita sedang jauh dari Tuhan.
4. Hadirat Tuhan mengubah atmosfir daerah kita.
5. Hadirat Tuhan menjaga kasih kepada Yesus Kristus.
- Published in Catatan Khotbah
Percaya dan Bertindak
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 30 Mei 2015.
Pembicara : Ade Nugroho.
Tema : Percaya dan Bertindak.
Venue : Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Sebagai seorang murid Kristus pastinya kita diajar Firman, baik pada saat pemuridan, maupun bersekutu dengan saudara seiman. Seiring dengan berjalannya waktu tentunya kita berharap akan adanya suatu pertumbuhan rohani terjadi pada masing-masing kita sebagai seorang murid. Tetapi didapati terjadi kekonyolan – kekonyolan yang sebetulnya tidak perlu ada.
Berikut ini beberapa hal kekonyolan yang sering sekali ditemukan :
- Tahu banyak hal (Firman) yang baik, tetapi tidak banyak dari hal tersebut yang dilakukan.
- Iri dengan orang yang melakukan Firman Tuhan. Ketika mendapatkan jawaban doa dikarenakan melakukan Firman, sering kali timbul iri hati. Jangan memiliki sifat seperti ini tetapi miliki respon untuk bayar harga dan melakukan Firman, sehingga kita dipenuhi dengan Firman tersebut.
Oleh sebab itu, pastikan bahwa kita memiliki sikap percaya penuh kepada Tuhan, mencari Tuhan setiap hari, dan melakukan Firman.
Mari kita kembali ke dasar kekristenan yaitu percaya dan kita lihat apa makna atau arti dari kata percaya itu sendiri.
Percaya (“aman” dalam bahasa ibrani), mengandung dua arti :
- Bergantung pada Tuhan.
- Taat atau setia (Yoh 1 : 12)
Sedangkan dalam bahasa yunani “Pistoeo” yang artinya sebuah aktifitas yang berkesinambungan.
Maka percaya adalah bertekun untuk bergantung pada Tuhan, dan siap menyatakan kesetiaan dan ketaatan.
Bertekun untuk bergantung pada Tuhan itu daily basis, yang berarti setiap hari memutuskan untuk percaya kepada Tuhan.
Kata percaya muncul pertama kali, ada dalam kejadian 15 : 6, disitu diketahui bahwa Abraham sudah berumur, dan tidak mungkin lagi punya anak. Tetapi kita bisa lihat respon Abraham untuk tetap percaya kepada Tuhan.
Percaya kepada Tuhan didasari oleh pengenalan akan Tuhan. Pengenalan akan Tuhan dibangun setiap hari lewat komunikasi.
Ayub 42 : 5 (Ayub mengalami pertemuan pribadi dengan Tuhan).
Ada kuasa dibalik membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Pastikan setiap kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan.
Percaya itu adalah sebuah keputusan.
1 samuel 30 : 1-9, 17 —> Daud menguatkan kepercayaanNya kepada Tuhan.
Ketika kita sedang lesu, banyak masalah, mari kita mencontoh sikap Daud yang semakin menguatkan kepercayaan kepada Tuhan. Melangkah dan bertindaklah maka engkau akan menang, jangan ragu bersama Tuhan, pegang FirmanNya, jangan dibiarkan gugur, perkatakan, dan percaya. Setiap hari kita harus memutuskan percaya kepada Tuhan.
Apakah penghalang orang percaya :
1. Keengganan, sungkan, malas (Yesaya 30 : 15)
Enggan untuk bergantung dan berdiam diri dihadapan Tuhan. hati-hati jangan sampai Tuhan yang paksa kita untuk berdiam diri dihadapanNya. jangan sampai kita terlalu sibuk sehingga lupa untuk mendengar suara Tuhan. Segala sesuatu yang menghalangi kita mendengar suara Tuhan dan FirmanNya, tanggalkanlah semuanya itu.
2. Kekerasan hati (Lukas 8 : 5), ini bukan hanya berbicara soal orang yang baru lahir baru.
Keselamatan berbicara soal mengalami Tuhan dibumi, tetapi mengapa di temukan tidak bertumbuh, karena adanya penolakan kepada Firman. Jadi miliki hati yang lembut, dan rindu akan kebenaran Firman Tuhan rindu supaya Tuhan berbicara.
3. Takut (1 Samuel 10 : 8, 13 :5 – 18)
Berapa anak Tuhan takut menghadapi perkara, sedangkan Tuhan latih kita lewat masalah supaya kita menjadi kuat. Tuhan menghendaki kita kuat. Ketika kabur dari masalah, sadar atau tidak, kita sedang mendeklarasikan bahwa Tuhan tidak ada. Hadapi masalahmu, bukan menjadi takut.
4. Pikiran- pikiran baik kejadian 15 : 5 -18, kejadian 16 :2
Hati-hati, jangan percaya pada satu fase, sedangkan Tuhan mempunyai rencana lebih lagi. Hati-hati dengan kata “mungkin”. Jangan pakai pikiran baik, tetapi miliki kepekaan dan tanya Tuhan harus melangkah kemana.
5. Pola pikir yang salah
Kembali berdoa dan cari Tuhan dapatkan apa yang Tuhan suruh, lakukan, dan tetap di jalan-Nya.
Bagaimana cara mengembangkan iman :
Roma 10 : 17
1. Baca Firman, iman timbul dari pendengaran akan Firman. (Roma 10 : 8)
2. Firman dekat kepadaMu, perkatakan Firman Tuhan.
3. Tinggal didalam penyembahan, artinya biarkan hadiratNya penuh dalam hidupmu, dalam penyembahan didapati hati yang lembut,dan Firman mudah untuk tersampaikan.
- Published in Catatan Khotbah
Api Roh Kudus
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 23 Mei 2015
Pembicara : Laura Theopilia
Tema: Api Roh Kudus
Venue: Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Kehadiran Roh kudus dilambangkan dengan berbagai macam bentuk. Pada hari ini kita akan belajar kehadiran Roh Kudus dalam bentuk api.Dalam perjanjian lama:Keluaran 3:1-5 Dalam ayat ini, dilambangkan dengan semak duri yang menyala tapi tidak terbakar.Keluaran 13:21-22 dilambangkan dengan tiang awan dan tiang api.Keluaran 19:16-19 dilambangkan dengan bentuk api.
Dalam perjanjian baru:Matius 3:11 Bicara tentang baptisan api. Banyak orang sudah berbahasa roh tetapi adakah api di dalamnya? Adakah api yang menyala dalam kita?Kisah rasul 2:1-4 Roh Kudus mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjelaskan tentang Firman kebenaran yang dapat dipahami dalam berbagai bahasa (menembus batas)
Sifat dan fungsi api Roh Kudus:
1. Bersifat Terang
Fungsinya menerangi atau memberi terang saat keadaan gelap.Mazmur 78:14Mazmur 105:39Roh Kudus hadir untuk memimpin dan menerangi langkah hidup orang percaya, sehingga kita TIDAK akan tersandung. Jaminan tidak akan tersandung apalagi jatuh. Adalah sesuatu yang konyol ketika kita punya Roh Kudus tetapi tidak bisa membedakan “terang” dan “gelap”, dosa atau bukan dosa. Bisa jadi kita sengaja untuk berjalan dalam dosa. Tidak ada yang lebih hebat dalam Tuhan, hanya siapakah yang meresponi Firman.
2. Membakar/Menjalar
Yakobus 3:5 Mazmur 83:15Satu titik api bisa menghanguskan/ membakar hutan yang luas. Satu orang yang hidupnya dipenuhi oleh Roh Kudus, bisa membakar sekelilingnya.Ia tidak takut pada hutan, betapa pun luasnya dan lebatnya, ia malah bersemangat untuk melahapnya, membakarnya. Sama halnya kita, mudah sekali untuk menjadi “dingin”, tetapi untuk menjadi panas kembali diperlukan bayar harga.
3. Memanaskan/Menghanguskan
Ibrani 12: 29Bahasa Yunani : “Ho Theos Hemon pur Katanaliskon” yang artinya “Allah kita adalah api yang terus membara”Dosa bukanlah sengaja atau tidak sengaja. Dosa selalu berasal dari kesengajaan, ketidaktaatan. Pastikan kita terus membara setiap hari karena Allah ada dalam kita. Jadi hidup kita tidak ditentukan kondisi yang ada. Ulangan 4: 24 Allah adalah Allah yang cemburu. Tidak mau diduakan. Sebelum orang lain cemburu, Tuhan sudah lebih cemburu. Sebelum orang lain memperhatikan kita, Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita.Ketika engkau merasa lelah dan kasih itu menjadi dingin, mendekatlah kepada Roh Kudus.
Yohanes 14:16-17, disebutkan bahwa Roh Kudus adalah Penolong yang menyertai kita dan diam didalam kita selama-lamanya. Roh Kudus adalah Allah yang tinggal di dalam dan di antara orang yang percaya. Terima ketiganya, bahwa ada Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Terimalah satu paket. bukan untuk dipilih-pilih. Terimalah juga Sang Penolong tersebut yaitu Allah Roh Kudus. Dia akan menuntun, 1 kali kita menjadi “dingin”, akan susah bahkan tidak bisa menjadi panas kembali.
4. Meleburkan dan menyucikan
Matius 3:12, berbicara bagaimana Dia menyeleksi, memilah-milah manusia. Debu jerami dan gandum sangat berbeda. Jerami ringan dan akan terbang ketika ditampi. Gandum akan tinggal dalam penampi.Mazmur 68:3, Semakin kita melebur dalam Tuhan, semakin tidak ada lagi yang kita inginkan. Sedangkan orang fasik tidak akan bisa bertahan di hadapan Tuhan. 1 Petrus 1:7, Kita akan diuji terus menerus untuk memisahkan mana yang dari Tuhan dan mana yang dari daging.Wahyu 3:18 Yeremia 23:29Api meleburkan semua hal yang tidak dibutuhkan, termasuk dosa kita, kedagingan, hawa nafsu kita.Pekerjaan Roh Kudus adalah meleburkan itu semua dan membentuk kita sesuai kehendak-Nya. Tidak peduli sekeras apapun karakter seseorang, Roh Kudus PASTI dapat mengubah dan melembutkannya. Inilah yang membuat kita berbeda dari orang yang lain, yaitu karakter kita mudah berubah karena Roh Kudus yang bekerja dalam kita. Sejauh kita menyerahkan kepada Roh Kudus.
5. Membinasakan
Yesaya 10:16-17, Api membakar habis rumput dan putri malu. Ini bicara tentang hal-hal yang menjadi penghalang untuk kita bertumbuh. Karakter manusia lama, baik itu pengecut, minder, tidak setia, semua akan dibinasakan oleh Api Roh Kudus.
6. Tidak pernah puas
Amsal 30:16, Api ketika tidak dipadamkan akan terus menjalar dan terus menjalar. Ini yang membuat kita tidak pernah berhenti untuk mengalami Tuhan terus menerus. Tidak pernah puas dengan pengajaran, tidak pernah puas dengan baca Firman sekian pasal, tidak pernah puas dengan waktu doa yang sekian menit. Mau terus dilatih dan mau terus diajar.
Kejadian 2: 15-17 Adam dan Hawa tidak mati ketika mendengar Allah Bapa bicara tentang larangan memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, tetapi Adam dan Hawa mati ketika tidak taat.Yang pertama kali menggunakan kata “mati” adalah Tuhan sendiri.Kematian itu sudah ada bahkan sejak kita belum diciptakan. Tapi dia tidak bekerja, tidak berkuasa atas kita sampai kita berlaku TIDAK TAAT!Ketidaktaatanmu memberi kuasa (empower) terhadap kematian itu, sehingga ia mulai bekerja & akhirnya engkau mati.
3 bagian Kematian:
a. Pada saat Roh Kudus meninggalkan roh manusia/ roh kita
b. Pada saat manusia meninggalkan hadirat Allah
c. Pada saat roh manusia meninggalkan tubuh dagingnya. Jadi kematian itu memiliki tingkatan/progresif. Orang sering menyangka bahwa kematian hanyalah ketika roh manusia meninggalkan tubuh. Ada satu kondisi dimana Roh Allah meninggalkan manusia. Daud bahkan berkata boleh yang lain diambil dari padanya hanya jangan Roh Allah yang meninggalkannya. Hidup tanpa Roh Allah adalah mati.
Upah dosa adalah maut (Roma 6: 23). Tidak bisa kita kompromi dengan dosa. Kita tidak mati karena tidak melakukan aktifitas ibadah (bersekutu, berdoa, baca Firman, dll.), justru kita mati ketika kita tidak taat.Allah tidak menciptakan kematian untuk manusia atau untuk membunuh Adam. Tapi Adamlah yang memilih untuk mati oleh maut dan setelah itu, Adam pun terus melahirkan keturunan-keturunan orang mati.
Dampak dari kedatangan Tuhan Yesus ke dunia yaitu membuat kematian kembali ke kondisi normalnya, yaitu diam, tidur dan tidak berkuasa lagi. Dia menaklukkan maut.
Maka, janganlah mendukakan/ memadamkan Roh Kudus. Roh Kudus adalah api yang berdiam dalam diri setiap orang percaya. Api itu memastikan engkau hidup dan bergerak bersama DIA. Yohanes 6: 63, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Ku katakan kepadamu adalah roh dan hidup.”
YOU NEVER DESIGN FOR HEAVEN, BUT FOR EARTH!
Kita bukan diciptakan untuk tinggal selamanya di bumi. Kita diberikan kuasa selama hidup di bumi, mendatangkan surga di bumi. Seperti Doa Tuhan Yesus, jadilah kehendakNya di bumi seperti di surga. Pakai fasilitas yang sudah diberikan Bapa, yaitu Roh Kudus. Mari kita kenali diri kita siapa di hadapan Tuhan.
Akhir kata, pastikan kita memiliki pergaulan yang karib bersama Roh Kudus. Kita tidak dikendalikan oleh mood atau perasaan kita, tapi kita yakin dengan apa yang Roh Kudus mau buat hidup kita.
- Published in Catatan Khotbah
Pengurapan
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 16 Mei 2015
Pembicara: John Ronaldo
Tema: Pengurapan
Venue: Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Nama Yesus Kristus berasal dari bahasa Ibrani di bawah ini:
YEHÔSYUA’ HAMASYIAKH”, artinya : “Yesus yang di-MÂSYAKH”, Yesus yang diurapi, Yesus Kristus.
Sedangkan kata Urapan berasal dari kata משחה – “MISYKHÂH”, asal katanya משח – “MÂSYAKH”, mengoles, melumuri, menggosok dengan minyak atau sesuatu yang terbuat dari minyak.
Dari sini kita tahu bahwa pengurapan identik dengan minyak. Sebenarnya belum ada kata yang cocok untuk menterjemahkan kata pengurapan, hanya saja penulis Alkitab menggunakan kebiasaan di jamannya untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam suatu pengurapan, yaitu efek dan fungsinya.
“minyak (zaitun)” juga digunakan:
- Untuk persembahan berupa roti (Keluaran 29:40),
- Untuk lampu (Keluaran 25:6),
- Untuk pengobatan (Yesaya 1:6),
- Untuk menguduskan benda2 dan imam. Keluaran 30:23-33. Perhatikan ayat 31(amplified) “And say to the Israelites, This is a holy anointing oil [symbol of the Holy Spirit], sacred to Me alone throughout your generations.”
Mari kita perhatikan dalam Keluaran 30:23-33. Minyak digunakan untuk mengurapi alat-alat di bait Allah, sehingga alat-alat tersebut menjadi maha kudus. Benda lain yang terkena alat tersebut juga menjadi kudus. Demikian apa yang telah diurapi Tuhan menjadi kudus di hadapanNya. Pengurapan juga dilakukan pada saat pentahbisan/pengukuhan seseorang untuk memegang jabatan tertentu.
Prinsip pengurapan:
- Selama ada bejana kosong, akan terus mengalir. 2 Raja-raja 4:1-7.
Ketika kita datang minta pengurapan dari Tuhan, kosongkan dulu diri kita dari kehendak, asumsi dan pengetahuan pribadi. Peperangan kita hari-hari ini adalah mengalahkan pikiran kita. Iblis selalu menyerang kita dengan memanah pikiran kita. Iblis menipu kita dengan menonjolkan kelemahan-kelemahan kita. LAWAN!
Jangan kita menyerah dan setuju dengan perasaan atau pikiran yang muncul. Belum tentu dari Tuhan. Maka dari itu, TUNDUKKAN pikiranmu. Masuk kamar doa dan jadilah tenang. Dengarkan Tuhan saja, bukan dengarkan iblis.
Destini iblis adalah di bawah kaki kita. Ketika si pendusta berbisik, suruh dia turun. Ingat, kita adalah orang yang diurapi. LAWAN!
Kembali ke kisah janda di 2 Raja-raja 4:1-7, Elisa berkata ambilah bejana-bejana tetapi jangan terlalu sedikit. Maka persiapkan “bejana-bejana” kita sebanyak-banyaknya untuk menampung pengurapan mengalir. Mari terus jaga disiplin kerohanian kita dan perbesar lebih lagi. Misalnya ketika sudah terbiasa membaca Firman 8 pasal/hari, bisa ditambah menjadi 10 pasal/hari.
2. Kerendahan hati 1 Samuel 17:15.
Di sini kita cermati, sekalipun dalam kesibukkan Daud untuk bermain kecapi di istana Saul, dia tetap menggembalakan kambing domba ayahnya di sela-sela waktunya. Daud tetap konsisten dengan apa yang dipercayakan padanya, menunjukkan ketekunan dan kesetiaannya pada otoritas. Kejadian ini justru terjadi setelah dia diurapi sebagai Raja, tapi Daud tetap rendah hati. Demikian pula ketika kita tetap merendahkan hati kita maka Tuhan pasti mencurahkan perngurapan pada kita.
Taati pula otoritas yang memimpin kita saat-saat ini. Apakah kita konsisten melakukan apa yang diinstruksikan oleh pembimbing kita? Kerendahan hati adalah salah satu akses untuk mengalirnya pengurapan. Ketika kita melihat seseorang yang diurapi dan memang ada tanda-tanda yang menyertainya, maka jangan lawan beliau. Nanti kita berurusan langsung dengan Tuhan. Ingat kisah Elisa yang diejek 42 anak, maka dicabik 2 ekor beruang. Hindari perbincangan-perbincangan yang tidak perlu mengenai pemimpin. Karena kita pun tidak menyentuh disiplin yang dilakukan pemimpin dan sejauh mana hubungan pemimpin dengan Tuhan.
3. Minyak akan keluar jika biji terpecah.
Buah zaitun yang telah matang dapat dikupas untuk diambil bijinya. Tapi untuk memperoleh minyaknya, kita harus menumbuk dan memerasnya. Sayangnya, biji zaitun adalah biji yang sangat keras. Dalam bahasa Inggris menggunakan kata “rock” karena sifatnya yang keras. Tapi biji harus terpecah supaya minyak mengalir. Kekerasan hati kita harus dihancurkan supaya minyak mengalir. Disiplin tiap orang berbeda-beda, tetapi kita belum tentu bisa melakukan disiplin orang lain. Kabar gembiranya adalah, disiplin kita, yang menurut kita sangat berat, kita SANGGUP melakukannya. Alu dan lumpang untuk menumbuk biji adalah tempat “proses” yang Tuhan sediakan buat kita. Ketika kita berhasil melewati proses tersebut, maka pengurapan mengalir.
Apa disiplin kita hari-hari ini? Apa proses kita hari-hari ini? Relakanlah hati kita untuk Dia proses, karena Dia tahu kita SANGGUP untuk menanggungnya.
Apakah pengurapan harus selalu dengan minyak?
- Kel 30:31 (amplified) “And say to the Israelites, This is a holy anointing oil [symbol of the Holy Spirit], sacred to Me alone throughout your generations.”
- Pengurapan dilambangkan minyak, tapi tidak selalu pakai minyak. Esensinya adalah Roh Kudus.
Di sini kita cermati bahwa esensi pengurapan adalah Roh Kudus. Kita bisa menggunakan minyak apa saja untuk mengurapi sesuatu. Tapi ketika tidak ada minyak, ingatlah bahwa esensi pengurapan adalah Roh Kudus, tanpa minyak tetap bisa dilakukan pengurapan. Pengurapan adalah kuasa yang diberikan Roh Kudus. Bukan selalu karena penumopangan tangan hamba Tuhan.
Jadi pengurapan sangat berhubungan dengan Roh Kudus.
- Berbanding lurus dengan kedalaman hubungan kita dengan Roh Kudus. (Ketekunan)
- Sebaliknya, ketidakaatan membocorkan pengurapan. Lihat Saul yang 2 kali melanggar, dia ditolak sebagai raja. Saul lebih mementingkan wibawanya di hadapan rakyat dibanding mentaati Firman. Ketika kita membangun hubungan kita dengan Tuhan hari-hari ini, sebenarnya kita sedang mengumpulkan kekuatan roh. Seperti pada satu masa 12 murid Yesus diajar, ada masanya juga untuk mereka diutus. Mereka sanggup mengusir iblis dan menyembuhkan sakit penyakit.
Ayo bangun pengurapan kita setiap hari. Tanpa ketekunan, pengurapan tidak mengalir,
Next level
[NIV] 2 Raja-raja 2:9 When they had crossed, Elijah said to Elisha, “Tell me, what can I do for you before I am taken from you?” “Let me inherit a double portion of your spirit,” Elisha replied.Ketika Elia terangkat ke surga, dia melemparkan jubahnya dan ditangkap oleh Elisa. Orang-orang melihat bahwa pengurapan Elia sudah ada di Elisa. Inilah pengurapan ganda yang diturunkan melalui pembapaan. Elisa selalu “menempel” kemanapun Elia pergi. Sekalipun diusir Elia, Elisa tetap berada di dekatnya.
Mari kita ingat, hamba Tuhan yang sudah meninggal. Kemanakah jubah pengurapan mereka? Siapakah yang sanggup bayar harga seperti hamba Tuhan tersebut?
Yesus pernah berkata, “Aku dan Bapa adalah satu”. Sebenarnya orang yang berani berkata demikian adalah orang yang sedang menyatakan bahwa dia sama dengan ayahnya, memiliki kapasitas yang sama, karakter yang sama, gaya hidup yang sama. Ini tidak mudah, tapi BISA kita lakukan. Yesus berhasil mencontohkan hal ini. Yesus berhasil mencerminkan Bapa dalam hidupnya sehingga ketika orang-orang melihatNya, mereka juga sedang melihat Bapa.
Mari kita sama-sama mengalami Tuhan!
- Published in Catatan Khotbah
Penginjilan
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 09 Mei 2015
Pembicara : Merlin Titahena
Tema : Penginjilan
Venue: Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Ada Firman Tuhan yang berkata, “bukan setiap orang yang berseru kepadaKu Tuhan, Tuhan akan masuk dalam kerajaan Allah. Tapi setiap orang yang melakukan kehendak Bapa.”Bukan Firman yang tidak berhasil, tapi karena keputusan kita. Destini Firman adalah berhasil. Yang salah adalah percaya kepada aktifitasnya, bukan kepada Firman. Hari ini kita akan belajar satu hal yang tidak sekedar pengajaran tapi sangat diperlukan tindakan.
Hal tersebut Sama halnya dengan penginjilan. Ketika seseorang menolak injil, bukan berarti kita gagal, tapi sudah berhasil Firman tersebut tersampaikan pada orang itu.Mari kita lihat di Lukas 10:1-12. Di sini kita perhatikan pola Yesus. Penginjilan adalah kegiatan yang aktif, bukan pasif. Dalam sepakbola, ini berarti sebagai penyerang, bukan penjaga gawang. Pola Yesus adalah mengutus pekerja pergi, bergerak dengan aktif, tidak tinggal diam. Ketika Tuhan berkata pergi, kemudian kita pergi, ini disebut tindakan aktif. Tidak ada pula penginjilan orang yang telah meninggal. Selama orang itu masih hidup, sampaikanlah injil, sekarang! Dalam ayat 2 dikatakan, tuaian banyak tapi pekerja sedikit. Siapa yang bisa kita injili? Keluarga, teman kost, teman kerja, rekan kantor. Sebenarnya banyak yang bisa kita injili. Dia mengatakan ladang telah menguning. Baik tidak baik waktunya, beritakanlah Firman. Tuhan bilang, pekerja sedikit tapi mintalah kepada Empunya tuaian. Tapi ayat yang selanjutnya, Yesus mengutus 70 muridNya untuk mengabarkan injil. Perhatikan pola Yesus, karena kita meminta pekerja kepada Tuhan, siapkanlah hati kita dengan jawaban Tuhan. Seringkali kita justru yang Dia utus.
Ada beberapa poin dalam penginjilan:
1. Rumah (ayat 5). Bicara tentang ruang lingkup kecil. One to one.
2. Kota (ayat 8). Dibutuhkan suatu pengurapan yang khusus untuk berbicara kepada kota.Mari perlebar kapasitas kita, sehingga suatu saat kita siap menginjili satu kota.
Dalam penginjilan, kita tidak boleh mengandalkan diri kita. Lihat ayat 4, tidak membawa apa yang kita punya. Jangan pakai kekuatan kita sendiri. Bukan karena kita terbiasa penginjilan, tapi karena kerinduan kita yang mendalam untuk ornag yang kita injili menerima Tuhan Yesus.
Ayat 3, Tuhan mengutus setiap kita seperti anak domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Ini adalah kondisi yang tidak menyenangkan. Tapi responi Firman. Janganlah takut. Jemaat mula-mula mengatakan, berilah kami keberanian untuk memberitakan injil. Maksudnya adalah karena mereka dalam kondisi yang tidak main-main. Nyawa mereka menjadi taruhan. Demikian pula dengan kita. Tidak perlu kita khawatir dengan nyawa kita.
Efesus 6:15 “kakimu berkasutkan kerelaan hati untuk memberitakan injil”Dalam amplified, disebutkan readiness. Artinya ada kesiapan pula dalam hati kita. Tidak sekedar rela. Jika sudah siap, maka kita juga rela memberitakan Firman. Kenapa kita harus siap? Karena baik atau tidak baik waktunya, beritakanlah injil. Masa-masa kita diajar di kelas peneguhan adalah masa persiapan. Apa yang kita terima akan kita bagikan pula kepada orang lain suatu saat nanti.Kadang kita terlalu banyak berpikir sebelum menginjili. Jangan rumit dengan pikiran sendiri. Penginjilan itu membagikan pengalaman hidup kita bersama Yesus. Tidak perlu rumus-rumus tertentu. Tuhan pakai apa yang ada pada kita.
Saat penginjilan, kita mengandalkan Tuhan. Lihat Markus 1:1-8. Pola ini juga selaras dalam Markus 16:15-20. Inilah pola yang dari Tuhan.Isi injil adalah
1. Pertobatan. Bertobat dari segala dosa dan kejahatan.
2. Tindakan pertobatan. Dibaptis bukanlah aktifitas belaka bahwa kita orang kristen, tapi sebagai tindakan kita bahwa kita percaya pada Yesus.
3. Disampaikan mengenai pengampunan dosa yang hanya dapat diperoleh melalui Yesus. Semudah itu. Manusia kadang membuat kerumitan sendiri, justru membuat dia binasa. Kita mungkin mencoba menganalisa Tuhan, tapi yang terjadi malah kesalahan demi kesalahan. Seharusnya, kita tinggal mendengar Dia bicara saja lalu lakukan.
Kata dasar Injil adalah kabar baik. Injil adalah kabar baik atau kabar sukacita. Ini bukanlah ancaman, jika tidak percaya diancam masuk neraka. Justru beritakanlah dengan sukacita, bahwa kita tidak perlu melakukan apapun untuk bisa diselamatkan, itu pemberian. Tidak perlu harus potong korban dulu, tidak perlu pelayanan dulu. Dengan menerima Yesus, kita layak hidup sebagai anggota kerajaan Allah. Lihat di lukas 10:8. Kerajaan Allah sudah dekat di sini bicara tentang pemerintahan Allah. Bagi orang yang tidak taat, memang nampaknya mengerikan, karena tidak mentaati berarti dihukum. Sebaliknya, bagi yang melakukan, pemerintahan Allah bicara tentang kelimpahan, bagian-bagian yang seharusnya menjadi milik kita, kita dapat terima. Mari kita ubah pola pikir kita. Injil bukanlah ancaman, tapi berita sukacita. Wajah kita pun dengan bersukacita.
Banyak cara untuk memulai penginjilan. Tidak selalu harus dengan kalimat nanti mati masuk mana. Lihat pola yang Yesus ajarkan, pekabaran injil diikuti dengan doa kesembuhan.
Kita lihat Roma 10:13-15. Firman Tuhan katakan di ayat 15, betapa indahnya orang yang membawa kabar baik. Tidak perlu takut. Kita takut menginjili, bisa jadi karena pengalaman ditolak. Ditolak itu mendewasakan kita, supaya kita banyak belajar dan berubah dalam Tuhan. Penting sekali untuk mempercayakan hidup kita pada Tuhan.
Yesaya 52:7, keselamatan datangnya dari Tuhan. Bukan diusahakan, bukan buat coba-coba. Tidak ada Tuhan lain selain Yesus dan keselamatan hanya melalui Yesus.Yesaya 61:1-5. Inilah yang dilakukan dalam penginjilan, membangun reruntuhan. Miliki kuasa untuk membangun satu kota. PAstikan kita berjalan ke sana, karena destini kita adalah kepada kota-kota. Pastikan kita mendengar baik-baik, kemana Tuhan mengutus kita pergi. Biar tergenapi Firman yng berkata, raja-raja akan datang untuk belajar pada kita.Persiapkan diri kita untuk menjadi orang besar, karena Roh yang ada dalam kita lebih besar daripada rh yang ada di dunia.
Roma 1:16-17, injil punya kuasa untuk menyelamatkan orang dari kebinasaan. Berjalanlah dengan tegak. Karena berita yang kita sampaikan punya KUASA. Kekuatan injil ini berlaku buat semua orang dari latar belakang apapun. Tidak perlu khawatir dan takut lagi
1 Tesalonika 1:5-6, Injil memiliki kepastian dan kokoh. Janganlah ragu-ragu memberitakan injil. Seorang sales yang menjual produknya dengan ragu-ragu, sama halnya sales itu tidak percaya dengan produk yang dijualnya. Petrus memberitakan injil dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati sehingga 3000 orang memberi diri untuk bertobat.
Marilah kita mengabarkan injil, bukan karena keharusan, tapi karena hati yang berkobar-kobar untuk memberitakan injil.
Jangan berhenti untuk membangun diri kita di dalam Tuhan.
- Published in Catatan Khotbah
Membangun Manusia Roh
Persekutuan J4u Bandung
Sabtu, 25 April 2015
Pembicara : John Ronaldo
Tema : Membangun Manusia Roh
Venue : Rg. Azalea 2, Lt. P1, BTC
Mendengar kata “membangun”, tentunya ada perubahan yang terjadi dari hasil pembangunan tersebut. Setiap hari selalu ada perubahan/perkembangan dari bangunan tersebut. Ketika terjadi kemandegan, artinya proses pembangunan juga berhenti. Hal ini berlaku pula dengan pembangunan manusia roh. Tanpa proses yang signifikan setiap hari, tidak akan didapati “bangunan” yang terus menjadi kuat. Tidak peduli umur kita, tua atau muda.
Mari kita perhatikan di dalam 1 Korintus 3. Banyak orang menyangka dirinya rohani tapi sebenarnya cara hidupnya masih duniawi. Paulus berkata dalam ayat 1-3, dia tidak dapat berkata-kata kepada jemaat Korintus dengan bahasa rohani karena cara hidup mereka masih duniawi. Garis bawahi kata “dewasa”. Ini persis dengan apa yang terjadi dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-21), seorang pemimpin agama Yahudi, yang gagal menangkap maksud perkataan Yesus tentang kelahiran kembali. Perkara-perkara rohani tidak dapat ditangkap dengan cara-cara duniawi (logika pengetahuan dan perasaan).Ciri manusia duniawi yang selanjutnya di ayat yang ke-3, yaitu adanya iri hati dan perselisihan. Hal-hal tersebut merupakan cara-cara manusiawi. Sejak kecil kita diberitahu bahwa api adalah panas dan es adalah dingin. Ini merupakan kebiasaan yang “wajar” secara manusia. Tapi sebenarnya ide bahwa api itu panas bisa kita ubah menjadi tidak panas jika dilatih terus menerus. Demikian pula ketika kita menahan suatu rasa sakit akibat terbentur, suatu saat sakitnya akan berkurang. Artinya suatu sifat dasar bisa berubah dengan kita mengubah pola pikir kita. Ini yang dimaksud dengan pembaharuan budi.
Kita bisa mengendalikan diri kita, yaitu tubuh, perasaan, pikiran. Bisakah kita mengerti sampai di sini? Ayat 4, bukan golongan gereja kita yang lebih penting, tapi Tuhan yang memberi pertumbuhan. Baik prisbeterian, orthodoks, Methodist, Kharismatik, “Apolos” ataupun “Paulus”, itu bukanlah hal yang perlu diperdebatkan. Adanya iri hati dan perselisihan menunjukkan bahwa kita manusia duniawi yang BUKAN rohani. Dimana ada iri hati dan perselisihan, disitu ada perbuatan jahat. Yang terpenting bukan yang menanam atau menyiram, tetapi Yesus yang memberi pertumbuhan.Ayat 9, kita adalah ladang Allah, bangunan Allah. Ayat 10, Setiap orang harus memperhatikan bagaimana membangun di atasnya.
Membangun Manusia Roh Jelas didapati dari uraian di atas, kita tidak bisa memakai cara-cara duniawi untuk membangun manusia rohani. Harus sesuai pula dengan sasaran. Kita terdiri dari roh, jiwa dan tubuh. Tubuh dibangun dengan makan makanan sehat dan bergizi. Jiwa dibangun dengan belajar, hiburan, rekreasi, dll. Bagaimana dengan cara membangun manusia roh?
Cara pertama dapat dilihat di Roma 10:17, IMAN timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan Firman Kristus. Kita membaca Firman Tuhan sambil bersuara hingga terdengar di telinga kita. Iman itu akan timbul. Bacalah Firman setiap hari. Standar kita adalah 8 pasal per hari. Mintalah pertolongan Roh Kudus untuk mengerti Firman Tuhan bukan dengan pengertian kita maka Dia akan membawa kita pada pengalaman-pengalaman baru dalam Dia. Di level kerohanian tertentu, alasan yang kita buat sangat berdampak serius buat hidup kita. Iman inilah langkah pertama untuk langkah-langkah selanjutnya.
Cara berikutnya adalah berdoa dan berpuasa. Lihat teladan Daud di kitab Mazmur 5:1-4. Daud menunggu-nunggu Tuhan berbicara. Jangan terburu-buru dalam waktu kita bersama Tuhan. Kapan terakhir kali kita bersungguh-sungguh menantikan Tuhan? Jagalah terus agar kasih kita tidak menjadi dingin.Berpuasa juga merupakan langkah untuk membangun manusia roh. Musa berpuasa 40 hari 40 malam. Yesus juga berpuasa demikian. Ada berbagai macam puasa dalam Alkitab yang kita bisa juga lakukan. Dengan berpuasa, kita sedang melawan sifat dasar kita. Lapar dan haus, kita bisa melawan hal tersebut. Mulailah berlatih puasa dengan melewatkan makan kita, misalnya makan pagi dan siang. Ini bisa dilatih secara bertahap, hingga kita berpuasa selama 24 jam penuh.
Selanjutnya, berbahasa roh. Karunia ini muncul ketika seseorang mengalami kepenuhan Roh Kudus. Mari kita lihat di 1 Korintus 14.Ayat 2 bahasa roh berasal dari Roh, bukan kutipan atau meniru dari orang lain, bukan pula dari diri kita. Maka dari itu, ketika kita melayani orang dalam baptisan Roh Kudus, lebih baik kita hindari berbahasa roh di telinga orang yang dilayani. Ayat 3 mencatat bahwa bahasa roh merupakan bahasa yang baru, bisa yang tidak dimengerti oleh manusia. Bahasa roh yang sejati akan mendiamkan bahasa roh yang bukan dari Tuhan.Ayat 4 bahasa roh berguna untuk membangun diri sendiri.Ayat 9 bahasa roh merupakan bahasa dengan kata-kata yang JELAS. Bukan bergumam atau bunyi-bunyian yang tidak jelas.
Ada kalanya orang yang baru menerima bahasa roh mengalami demikian, tapi itu bisa dilatih. Seharusnya seiring berjalannya waktu, bahasa roh menjadi kata-kata yang jelas, karena orang tersebut memperoleh perbendaharaan kata yang baru tiap hari. Ayat 13 mencatat bahwa kita tidak boleh berhenti hanya dengan memiliki bahasa roh, mintalah pula terjemahan/tafsirannya. Ayat 18 Paulus menyatakan bahwa dia berbahasa roh lebih dari semua jemaat di Korintus. Hal ini dimaksudkan supaya jemaat tidak cukup puasa sekedar memiliki bahasa roh tapi terus mengejar karunia-karunia lain. Roh Kudus selalu bergerak tertib dan teratur. Mana mungkin yang seorang bernubuat sedang yang lain terus-terusan berbahasa roh.
Lalu apa bedanya berdoa dalam roh dengan berdoa dalam bahasa roh?Kembali ke ayat 14. Jelas kedua hal tersebut berbeda. Berdoa dalam bahasa roh sudah jelas kita mengutarakan doa kita dalam bahasa roh. Sedangkan berdoa dalam roh berarti kita berdoa dalam bimbingan Roh Kudus. Kita dengarkan apa yang menjadi agenda Roh Kudus dalam doa tersebut.
Langkah beikutnya dalam membangun manusia roh adalah dengan rakus mengejar karunia-karunia. 1 Korintus 12:31. Jemaat di Korintus cukup puas dengan hanya berbahasa roh. Paulus menegur mereka di ayat 31. Versi KJV memakai kata “covet earnestly” yang berarti rakus/tidak cepat puas, terjadi terus menerus.Setelah mendapat, kita juga perlu melatih karunia-karunia tersebut. 2 Timotius 1:6, ayo kobarkan karunia tersebut. Bahasa roh semakin kuat bukanlah sambil berteriak, tapi dengan bersungguh-sungguh. Berbahasa rohlah dengan kuat, dengarkan, sampai ada yang terbangun di hati kita. Artinya tidak sekedar berbunyi. Ayo kobarkan karunia-karunia yang lain.Bahasa roh adalah membangun diri sendiri, bukan jemaat. Mari persiapkan diri kita di kamar pribadi. Artinya kita senantiasa berkobar. Bukan ketika mau melayani baru kita berbahasa roh dulu.
PERINGATAN!
1. Jadilah dewasa dalam roh.
Janganlah cepat puas dengan apa yang kita miliki sekarang. Dewasa dalam roh berbeda dengan dewasa secara jasmani. Tidak peduli umur kita berapa, dewasa dalam roh adalah level kematangan seseorang yang selalu memakai cara-cara Tuhan dalam hidupnya.
2. Jangan campur aduk roh dengan jiwa (perasaan/emosi).
Miliki kepekaan roh untuk dapat membedakannya. Ini didapatkan dari hubungan pribadi kita bersama Tuhan. Jika kita pernah mengecap yang dari Tuhan maka kita bisa membedakannya dengan yang palsu/bukan dari Tuhan.
3. Karunia yg kita punya untuk membangun (1 kor 14:12) bukan untuk menghancurkan.
4. Kenakanlah kasih. 1 kor 13:1-3.
Tidak ada faedahnya dengan kita memiliki segala sesuatu tanpa adanya kasih. Kasih merupakan hal yang terutama dalam hubungan. Inilah yang membedakan kita dengan orang farisi dan ahli taurat.
Sebagai Penutup, cermatilah Kisah para rasul 1:6-8.Murid-murid Yesus meminta Yesus untuk memulihkan kerajaan Israel, tapi justru Yesus berkata jikalau Roh Kudus turun, kita akan menerima kuasa dan kita akan menjadi saksiNya di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Ada pola yang Yesus ajarkan. Ayat 8 mengandung arti bahwa kita harus dipenuhi Roh Kudus terlebih dahulu supaya kita juga bergerak bersama-sama Roh Kudus. Siapakah yang akan dipakai untuk memulihkan keluarga, sekolah, kampus bahkan negara? Jawabannya adalah Anda dan saya yang dipenuhi Roh Kudus.
Siapkah kita akan hal ini? sudah tahun 2015 loh.
- Published in Catatan Khotbah
Firman yang Memerdekakan
J4u Bandung
Sabtu, 18 April 2015
Pembicara : Yorga S. Parnadi
Tema : Firman Yang Memerdekakan
Venue : Rg. Azalea, Lt. P1, BTC
Yosua 1 : 1-9
Kita perhatikan di sini bahwa Firman bukanlah pilihan,karena jika tidak dikerjakan akan mendatangkan kutuk. Tuhan berjanji kepada bangsa Israel kepada setiap tempat yang diinjak akan menjadi milik mereka, hanya jika mereka berlaku sama seperti Musa dan Yosua. Karakter Yosua yang dimaksudkan di sini adalah:
– Generasi peralihan tongkat estafet
– Penaklukkan daerah /wilayah yang Tuhan berikan
– Tidak kompromi (kudus atau mati sama sekali)
– Generasi yang beriman
Pada waktu mendengar Firman tersebut, Yosua belum mengalami. Sebenarnya dia sedangdipaksa ditakdirkan. Taatlah seperti Yosua. Mari kita memiliki hubungan pribadi yang dibangun setiap hari bersama Tuhan.
Syarat seorang pemimpin
1. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.
Kalimat “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu” ini diulang sampai 3 kali oleh Tuhan(ayat 6, ayat 7 dan ayat 9). Tidak ada pemimpin yang ragu-ragu. Pemimpin yang berhati teguh pada kebenaran. Sekali berkata A maka itu yang dilakukan. Ada pemimpin yang karena bakat sejak lahir. Tetapi 98% pemimpin yang menjadi pemimpin besar di dunia itu dibentuk bukan dilahirkan. Jadi, kita semua bisa jadi pemimpin, syaratnya adalah kuatkan dan teguhkanlah hatimu karena kita akan memimpin bangsa ini. Jika kita ingat, berapa jumlah surat grasi yang ditolak oleh presiden.
Meskipun Tuhan sudah berjanji, tetap dibutuhkan para pemimpin yang bangkit dengan kekuatan yang luar biasa. Jadi ketika kita sungguh-sungguh mempersiapkan diri kita maka dampaknya pada ribuan orang, satu orang berdampak pada seribu orang, dua orang berdampak pada berlaksa-laksa. Kita seharusnya menyadari kapasitas kita sampai ke sana.
2. Jangan melenceng.
Ayat yang ke 7, Tuhan memperingatkan lagi untuk kuat dan teguh, jangan melenceng. Ada terlalu banyak alasan untuk kita melenceng keluar dari trek Tuhan. Jangan iri dengan orang yang berbuat jahat. Jangan gampang mengikuti arus. Ketika yang lain tidak membayar pajak, tetaplah kita membayar pajak. Kita terlebih takut kepada Tuhan daripada manusia. Anda tahu seorang yang dewasa? Seorang pria dewasa akan menyelesaikan apa yang dia mulai. Hal sederhananya seperti kita menyelesaikan buku yang kita baca sampai habis, bukan setengah-setengah, kemudian bosan lalu disimpan.
Ayat 8, Apa yang kita dikerjakan berhasil. Ingat pula dengan kisah Daniel, segala yang diperbuatnya berhasil. Kita membuka les privat berhasil, bahkan hingga kepenuhan murid. Kita membuat comro berhasil, terkenal sekota. Kita membuka bisnis online berhasil.
Dunia telah salah memuja, mencari mana yang benar, tetapi mereka tidak berhasil. Ketika kita melawan arus, kita adalah orang langka hari-hari ini. Pada suatu saat, kita tidak berkoar-koar Firman pun orang lain rindu untuk mengenal Yesus. BERSIAPLAH! Tuhan akan memakai kita menjadi revivalis-revivalis. Taat saja. Untuk taat dibutuhkan iman. Waktu Abraham hendak mengorbankan anaknya sesuai dengan Firman Tuhan, dia tidak ragu mengayunkan pisaunya. Disitulah Tuhan tahu ketaatan Abraham. Jelas di sini bahwa ketaatan adalah ketaatan, ketidaktaatan adalah ketidaktaatan, meski sekecil apapun itu.
Firman Tuhan, kita adalah lebih dari penakluk (more than conquerer). Dalam pertandingan, jika kita menang dengan yang sebanding kita layak disebut sebagai pemenang. Jika menang dengan yang lebih besar, kita disebut penakluk. Tapi lebih dari pemenang, karena Tuhan yang menaklukan dan kemenangan itu diberikan pada kita.
Ayat 8, “Sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil…”. Artinya sewaktu Firman dilakukan, maka kita berhasil. Musa bagaikan allah bagi bangsa Israel, karena ia sebagai penyambung lidah Allah pada bangsa Israel. Maka dari itu arti kata nabi adalah representasi Allah di muka bumi. Ketika Musa berbicara, Tuhan yang mendukung. Seperti kepada Musa, jangan pernah memberontak pada orang yang diurapi Tuhan, yang kita sadar ada tanda-tanda Ilahi pada hidupnya. Artinya Tuhan ada dalam hidupnya.
“Janganlah engkau lupa memperkatakan taurat itu, tetapi renungkanlah siang dan malam..” Rupanya perkataan Musa tersebut berasal dari Tuhan. Maka supaya kita tidak melanggar Firman, BACALAH Firman. Kenapa banyak orang melanggar Firman? Karena bodoh dan tidak berpengetahuan. Orang bodoh adalah orang yang tidak tahu Firman, konsekuensinya dihukum. Sedangkan orang bebal adalah orang yang sudah tahu Firman, sudah diajar, tetapi tidak dilakukan maka konsekuensinya terkutuk.
Kita dimuridkan untuk belajar melakukan Firman dan mengalami Firman itu sendiri. Contohnya adalah hospital visit, kita mengalami malu-malunya, sungkan, tetapi bersuka cita ketika selesai berdoa karena kita baru belajar melakukan Firman. Mari bukan sekedar membaca Firman, tetapi lakukan. Mengapa? Karena kita tidak sedang mencetak ahli-ahli taurat dan orang farisi.
Lagi di ayat 9, Tuhan berkata kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu. Jangan kecut (terrified: takut) dan tawar hati. Ketika Tuhan memerintahkan, berarti kita bisa melakukannya. Mungkin ada hal-hal yang kita korbankan dan salibkan. Tetapi kita mau melakukan Firman. Tuhan berkata “bukankah telah kuperintahkan..”
Mari kita lihat di Roma 10 : 17, “Jadi iman timbul dari pendengaran, pendengaran akan Firman Kristus”
Iman muncul saat mendengar suara Tuhan. Kenapa kita tidak beriman? Karena kita tidak mendengar Firman. Kadang kala kita tidak mendengar Firman Karena kita menolak Firman. Ragu-ragu adalah buah ketidakpercayaan. Jika kita ragu-ragu, masuk kamar minta Tuhan bicara. Menolak Firman bisa secara sadar dan tanpa sadar. Bukan kita tidak mau melakukannya, tetapi kita sudah menolaknya ketika didengar. Di akhir jaman ini ada orang yang memilih-milih Firman yang mau didengarnya. Orang tersebut adalah orang yang tidak mau pikul salib dan bayar harga. Konsekuensinya tidak punya iman. Mari perhatikan bedanya pikul salib dan bayar harga yang mengandung arti rohani. Pikul salib artinya meninggalkan manusia lama sebagai buah dari lahir baru. Jadi jika orang tidak pikul salib, dipertanyakan pertobatannya. Yang kedua yaitu bayar harga. Masuk sorga tidak perlu bayar apa-apa karena sudah ditebus darah Yesus tetapi untuk hidup dalam iman harus bayar harga. Yang lain belum bangun, kita sudah berdoa pagi, ini bayar harga. Yang lain mencontek kita tidak mencontek, ini bayar harga. Yang lain kerja malas-malasan, ini bayar harga.
Tetapi yang paling fatal adalah Firman yang tidak dilakukan. Ini artinya PEMBERONTAKAN langsung terhadap Tuhan. Ketika kita sering gagal, coba renungkan Firman apa yang belum kita lakukan.
Firman Tuhan memerdekakakan. Firman Tuhan juga diibaratkan sebagai cermin untuk melihat diri kita bagaimana seharusnya dalam Tuhan. Lakukanlah Firman. Ketika kita melakukan Firman maka diibaratkan dengan makan Firman.
Firman diibaratkan sebagai roti. Kita akan menjadi kuat berjalan dalam kekudusan, kebenaran, dan kemenangan.
Firman diibaratkan sebagai air. Sifat Firman adalah membersihkan, memenuhi, menutupi segala sesuatu.
FIRMAN adalah perkataan yang keluar dari mulut Tuhan(The Word of God) pasti terjadi!
Maleakhi 3 : 10
“…apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”
Berkelimpahan bukanlah berkecukupan. Berkelimpahan artinya perlu 10 Tuhan kasih 100. Lebih dari apa yang kita perlukan. LAKUKAN FIRMAN. Di ayat ini Tuhan menantang kita apakah Dia tidak membuka tingkap-tingkap langit. Tingkap-tingkap langit bicara tentang hujan badai, bukan kita saja yang diberkati, orang di sekitar juga mengalami. Saat kita taat, yang Tuhan lihat hati kita.
Firman diibaratkan sebagai pedang bermata dua.
Berguna untuk menyerang/menghancurkan. Pertahanan yang paling baik adalah menyerang.
Ketika kita baca Firman ada ayat yang kuat berbicara pada kita maka lafalkan ayat tersebut, maka atmosfir hidup kita akan berubah. Itulah pedang. Firman akan menyingkirkan atmosfir yang bukan dari Tuhan. Kita sanggup memisahkan pertimbangan dengan kehendak Roh.
Untuk mengalami Firman, maka lakukan dulu Firman. Maka kita akan mengalami kemerdekaan.
- Published in Catatan Khotbah

